Pergerakan animasi.
Goresan pena digital yang statis.
Rangkaian huruf dengan gambar yang bernilai lebih banyak.
Suara itu. Suara yang selalu menyapa dengan nada mengejek. Suara yang selalu mendorong kata-kata kembali turun melalui tenggorokan.
Suara yang terhias kejujuran di segala sudutnya.
Ia terbungkam. Gumaman pun bahkan tak terdengar. Dia hanya duduk disana. Dalam posisi kaki terlipat, bersila, di depan pintu merah itu. Kepalanya tertunduk. Kedua lengannya terikat di pergelangan tangan. Secarik kain menutup rapat matanya dari cahaya dunia.
Helpless...
Blinded...
Silenced...
And yet...
Bahu itu bergerak. Dan seketika, suara tawa memenuhi telinga.
Ia masih terbungkam.
Ia masih terikat.
Ia masih tak berdaya.
Dan disini, aku berdiri, bergetar menatap bahunya yang bergerak naik turun.
Suara tawa itu semakin keras.
IA MASIH TERBUNGKAM!!!
then...
Kepalanya perlahan bergerak,
semakin naik,
dan berhenti,
ketika kain yang menutup matanya,
menatapku tepat di kedua mata.
Suara tawa itu hilang...
"Miss me?"
.
.
.
.
.
ucapnya.
Stories, Chats And Everything Else
It's Me, My Stories, My Thoughts, My Days, And Just About Everything That Can Be Written! ^^
3/31/2014
9/17/2012
Apakah Tuhan berdebat?
Friday. September 14th, 2012. 18:30.
Dalam KBBI, debat memiliki arti pembahasan dan pertukaran
pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan
pendapat masing masing. Sedangkan perdebatan memiliki arti soal yang
diperdebatkan, atau perbantahan.
Mengacu pada arti kedua dari kata perdebatan –perbantahan-,
aku melihat sebuah pertentangan. Seperti, ketika 2 orang, A dan B, melihat
sebuah bayangan, si A akan berpendapat bahwa bayangan itu adalah bayangan manusia,
sedangkan si B akan berpendapat bahwa bayangan itu bayangan hewan berkaki dua.
Kemudian, karena perbedaan ini, mereka berdua akan melakukan perdebatan, dengan
mengungkapkan alasan-alasan yang mendukung pendapat mereka.
Walaupun berbeda-beda, konsep Tuhan disetiap agama memiliki
satu kemiripan; konsep dari Divine Power, Omniscient, Dzat Maha Segala,
pencipta dari segala yang ada di alam semesta. Sang Kebenaran Mutlak bagi saya
sendiri untuk menyebutNya.
Mengacu pada konsep-konsep yang ada ini, tentunya melakukan
perdebatan dengan Tuhan sama saja dengan meragukanNya. Karena Tuhan adalah
pencipta dan Maha Segalanya, maka menurutku aman jika kukatakan kalau setiap
kata yang keluar darinya adalah Kebenaran, bukannya pendapat. Dan Kebenaran
tidak bisa diganggu gugat, jua Kebenaran tidak perlu dipertahankan, karena
sifatnya yang tidak bisa diganggu gugat itu.
Mari mengambil contoh diatas.
Anggap, Tuhan dan manusia A melihat sebuah bayangan berkaki
dua. A akan berpendapat bahwa bayangan itu adalah manusia. Akan tetapi, jika
Tuhan mengatakan kalau bayangan itu adalah, misalnya, ayam, maka pendapat
manusia itu hangus. Manusia A tidak boleh mengungkapkan alasan yang bisa
membenarkan pendapatnya, karena itu berarti melawan Kebenaran, yang menurutku
sama saja dengan Dusta.
Lain halnya jika si A bertanya, “apa yang membuat Tuhan
berkata bahwa bayangan berkaki dua itu adalah bayangan ayam?”
Jadi, apakah Tuhan berdebat?
Menurutku -seperti juga menurut sebagian besar orang yang
memiliki waktu untuk memikirkan ini- tidak. Perdebatan dengan Tuhan adalah
buang-buang waktu, karena Kebenaran adalah milikNya. Dia tidak berpendapat.
Manusialah yang berpendapat. Tuhan tidak.
7/26/2012
REVIEW BUKU: DAN HUJAN PUN BERHENTI...
O3:38. July 26th, 2012. Thursday.
Waktu itu harinya panas banget. Tapi tetep aja, kepala bisa ngasih ide yang menurutku cukup brilian, obvious tapi agak jahat.
Uang di dompet waktu itu 250ribu. Rencananya sih buat bayar kos untuk bulan Juli, tapi tiba-tiba aku tepikir, “Oya, mama kan nanti ngirimin uang buat catering sama kos pas tanggal 30.” Uang yang dimaksud berjumlah sekitar 600an. Kemudian, dengan sendirinya, pikiran ini disambung dengan sebuah pikiran lain, “catering kan masih banyak kuotanya, dan katanya untuk September aku gak perlu bayar.”
NAH!!
Aku literally ngomong “NAH!!” waktu itu. Untung aja, itu pas di kamar kosan. Dan teriakanku gak terlalu keras.
Singkat cerita, aku mutusin untuk ke toko buku Karisma yang walaupun lumayan jauh tapi udah termasuk toko buku yang menurutku mumpuni. Jadi, saat panas-panas terik, aku pun melangkahkan kaki ke sana. Took me 10 minutes, tapi pas di tengah perjalanan ke sana, sebuah judul muncul di kepalaku.
dan Hujan pun Berhenti...
Aku pertama ngeliat buku itu juga pas di karisma, tapi pas itu uangku kurang. Padahal jangkar dia udah tertambat. Terpaksa deh tak lepas. -__-
Akhirnya, pas sampe di karisma, langkah kakiku yang mantap pun kuarahkan pada buku yang mungkin, tanpa kusadari, gak pernah ngelepas tambatan jangkarnya ke hatiku. *X)*
Sesampainya di kosan, bener-bener gak tahan walaupun hati kecil udah bilang, “gak usah dibuka plastiknya, nanti aja. Tunggu kamu selese baca yang lain.”
Tapi tetep aja, gatalnya tangan-tangan ini lebih kuat dari pada sugesti hati kecilku itu.
dan Hujan pun Berhenti... adalah novel karya mbak Farida Susanty (@faridasusanty), yang kemudian kuketahui juga adalah penulis cerpen di kumcer Karena Kita Tidak Kenal yang betengger di wish listku di bukabuku.com.
Hal yang paling, PALING pertama aku tangkap adalah tulisan kecil dibawah judul biru novel itu.
“kamu mau bunuh diri?”
“ya, asal tidak hujan...”
Dari situ, dan setelah baca ringkasan sangat pendek dibelakangnya, aku jadi ngira, ini novel akan dark banget.
Dan ternyata bener. Walaupun kemasan bahasanya itu seperti anak muda pada umumnya (mbak farida pas nulis novel itu masih umur 17 tahun) dan diselingi dengan humor, novel itu gelap. Dark. Sangat, sangat dark. Morbid, seperti yang diungkapkan oleh seorang mahasiswa yang membacanya.
Buku ini berhasil ngebuat aku gak ngelepas mataku dari halaman-halamannya for a straight 7 hours! Iya! 7 JAM!! Dan ini baru terjadi untuk pertama kalinya. Aku yakin, unsur dark dari novel itu sangat berperan penting dalam hal ini.
Tapi endingnya, men. Endingnya, terang banget. Aku aja sampe [hampir] terharu. Rasanya, aku udah bisa ngeliat endingnya, tapi karena kegelapan yang harus kulewati untuk sampai ke ending itu, yang bener-bener pitch black, ngebuat aku jadi [hampir] terharu.
Overall, buku ini bagus. Banget. Bagus banget. Unsur dark, pitch blacknya, benar-benar terasa, dan endingnya bener-bener pas. Gak lebih. Gak kurang. Membaca buku ini seperti bertualang, dituntun masuk ke dalam sebuah goa di tengah metropolitan, lalu sang penuntun itu hilang entah kemana sedangkan goa itu benar-benar gelap, tanpa ada penerangan sama sekali, dan di jalan keluarnya, kamu nemuin sebuah Shangri-la. Dan itu pantes banget buat mendeskripsikan petualangan yang disajikan buku ini. (:
Recommended untuk penulis-penulis muda yang juga sedang belajar menulis cerita-cerita dark, dan juga mereka yang mau keluar dari comfort zone, meninggalkan cahaya mereka sebentar, dan bertualang di goa gelapnya buku ini.
Waktu itu harinya panas banget. Tapi tetep aja, kepala bisa ngasih ide yang menurutku cukup brilian, obvious tapi agak jahat.
Uang di dompet waktu itu 250ribu. Rencananya sih buat bayar kos untuk bulan Juli, tapi tiba-tiba aku tepikir, “Oya, mama kan nanti ngirimin uang buat catering sama kos pas tanggal 30.” Uang yang dimaksud berjumlah sekitar 600an. Kemudian, dengan sendirinya, pikiran ini disambung dengan sebuah pikiran lain, “catering kan masih banyak kuotanya, dan katanya untuk September aku gak perlu bayar.”
NAH!!
Aku literally ngomong “NAH!!” waktu itu. Untung aja, itu pas di kamar kosan. Dan teriakanku gak terlalu keras.
Singkat cerita, aku mutusin untuk ke toko buku Karisma yang walaupun lumayan jauh tapi udah termasuk toko buku yang menurutku mumpuni. Jadi, saat panas-panas terik, aku pun melangkahkan kaki ke sana. Took me 10 minutes, tapi pas di tengah perjalanan ke sana, sebuah judul muncul di kepalaku.
dan Hujan pun Berhenti...
Aku pertama ngeliat buku itu juga pas di karisma, tapi pas itu uangku kurang. Padahal jangkar dia udah tertambat. Terpaksa deh tak lepas. -__-
Akhirnya, pas sampe di karisma, langkah kakiku yang mantap pun kuarahkan pada buku yang mungkin, tanpa kusadari, gak pernah ngelepas tambatan jangkarnya ke hatiku. *X)*
Sesampainya di kosan, bener-bener gak tahan walaupun hati kecil udah bilang, “gak usah dibuka plastiknya, nanti aja. Tunggu kamu selese baca yang lain.”
Tapi tetep aja, gatalnya tangan-tangan ini lebih kuat dari pada sugesti hati kecilku itu.
dan Hujan pun Berhenti... adalah novel karya mbak Farida Susanty (@faridasusanty), yang kemudian kuketahui juga adalah penulis cerpen di kumcer Karena Kita Tidak Kenal yang betengger di wish listku di bukabuku.com.
Hal yang paling, PALING pertama aku tangkap adalah tulisan kecil dibawah judul biru novel itu.
“kamu mau bunuh diri?”
“ya, asal tidak hujan...”
Dari situ, dan setelah baca ringkasan sangat pendek dibelakangnya, aku jadi ngira, ini novel akan dark banget.
Dan ternyata bener. Walaupun kemasan bahasanya itu seperti anak muda pada umumnya (mbak farida pas nulis novel itu masih umur 17 tahun) dan diselingi dengan humor, novel itu gelap. Dark. Sangat, sangat dark. Morbid, seperti yang diungkapkan oleh seorang mahasiswa yang membacanya.
Buku ini berhasil ngebuat aku gak ngelepas mataku dari halaman-halamannya for a straight 7 hours! Iya! 7 JAM!! Dan ini baru terjadi untuk pertama kalinya. Aku yakin, unsur dark dari novel itu sangat berperan penting dalam hal ini.
Tapi endingnya, men. Endingnya, terang banget. Aku aja sampe [hampir] terharu. Rasanya, aku udah bisa ngeliat endingnya, tapi karena kegelapan yang harus kulewati untuk sampai ke ending itu, yang bener-bener pitch black, ngebuat aku jadi [hampir] terharu.
Overall, buku ini bagus. Banget. Bagus banget. Unsur dark, pitch blacknya, benar-benar terasa, dan endingnya bener-bener pas. Gak lebih. Gak kurang. Membaca buku ini seperti bertualang, dituntun masuk ke dalam sebuah goa di tengah metropolitan, lalu sang penuntun itu hilang entah kemana sedangkan goa itu benar-benar gelap, tanpa ada penerangan sama sekali, dan di jalan keluarnya, kamu nemuin sebuah Shangri-la. Dan itu pantes banget buat mendeskripsikan petualangan yang disajikan buku ini. (:
Recommended untuk penulis-penulis muda yang juga sedang belajar menulis cerita-cerita dark, dan juga mereka yang mau keluar dari comfort zone, meninggalkan cahaya mereka sebentar, dan bertualang di goa gelapnya buku ini.
REVIEW BUKU: PERGULATAN IMAN
22:33. July 25th, 2012. Wednesday.
Pergulatan Iman.
Buku itu pertama kali menambatkan jangkarnya saat saya melihat sebuah tweet. Saya lupa itu tweet dari siapa, karena opera mini saya terupdate dan saat dicek saved pagesnya, tweet itu tidak ada. -...-
Cukup susah untuk mendapatkan buku ini, karena di toko buku seperti Gramedia dan Karisma, buku ini tidak bisa saya temukan. Terdorong karena rasa penasaran yang besar pada buku ini saat itu, saya pun beralih ke twitter. Saya me-mention dua akun saat itu, yaitu @klubbuku dan @jualbukusastra. Yang duluan membalas adalah @klubbuku, dan admin akun ini menyarankan saya untuk head-over ke @bukabuku dan websitenya, bukabuku.com. @jualbukusastra membalas tweet saya beberapa hari setelah itu, tapi sayangnya saya sudah melakukan transaksi duluan di bukabuku.com.
Di website itu, buku ini dipatok harga Rp.29.750,-, yang telah didiskon 15% dari harga aslinya yaitu Rp.35.000,-. Ditambah dengan ngkirnya, buku ini berharga Rp.60.000. Pertama, melihatnya, saya tidak merasa apa-apa juga. Saya pikir, wajar saja kalau buku ini dipatok harga segitu. Malah, saya juga bersyukur.
Ditengah pemrosesan pesanan saya, ada sebuah kendala tak terduga, yaitu ternyata stoknya kosong, dan saya pun memutuskan untuk mengganti pesanan saya. Tapi, beberapa saat kemudian, saya mendapat sms kalau pesanan saya sudah ready, dan apakah saya ingin tetap atau ganti. Saya pun memutuskan untuk tetap, dan untuk membatalkan penggantian pesanan saya. Sebuah keputusan yang sekarang sangat saya syukuri saya ambil dan mulai berpikir kalau Tuhan ada ikut campur mengenai ini. Tapi yah, wallahu’alam kalau soal itu. (:
Pengiriman dilakukan pada hari Jum’at, dan selama Sabtu dan Minggu, saya khawatir. Sangat khawatir. Seperti, kekhawatiran seorang istri yang menunggu suaminya untuk pulang dengan selamat dari medan perang. Iya, sebegitu khawatirnyalah saya. Dan yang paling saya khawatirkan adalah kalau ‘suami’ saya itu tidak sampai dengan selamat.
Tapi ternyata, Alam mengelus dada saya. Ia seperti mengangkat bahu saya, ketika di hari Seninnya, pintu kamar kos saya diketuk, dan ibu kos saya, sambil memberikan sebuah bingkisan berwarna coklat dilapisi pastik sambil berkata, “ini ada paket buatmu, pin.” Leganya pun sampai sekarang masih membekas. (:
Buku ini adalah kumpulan wawancara yang dilakukan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL), more specifically Ulil Abshar-Abdalla, Nong Darol Mahmada, Novriantoni dan Burhanuddin. Interviewer yang paling prominent disni adalah Ulil Abshar-Abdalla (@ulil), yang setelah saya google adalah koordinator di JIL dan sosok yang dilingkari kontroversi.
Buku ini terbagi dalam 9 bagian dan berisi pengalaman keagamaan dan pergulatan iman dari 29 tokoh. Wawancara di dalam buku ini dilakukan sepanjang tahun 2002-2005 dan isinya, like the title suggests, adalah kumpulan pergulatan iman yang dialami oleh berbagai tokoh dari beragam latar belakang. Saat membaca buku ini, pikiran saya benar-benar terbuka, dan beberapa hal di buku seperti menjadi sentilan bagi bangsa kita sekarang.
Tokoh yang benar-benar menarik perhatian saya adalah alm. Munir, seorang yang “pahlawan HAM kita yang kemudian 'dibungkam' selamanya” seperti yang tertulis di pengantar buku ini. Seperti yang tertulis di belakang buku ini, alm. Cak Munir –panggilannya di buku ini dan juga sehari-harinya– berpendapat bahwa “tidak ada alasan umat islam untuk tidak berpihak pada yang tertindas”, dan “masyarakat yang adil tidak mesti menuntut semua orang jadi islam, tapi bagaimana cita-cita Islam tentang keadilan dapat hidup dalam masyarakat".
Salah satu alasan utama buku ini bisa menambatkan jangkarnya secara langsung ketika saya telah melihatnya, adalah karena unsur sosial. Sejak saya masuk kuliah, entah kenapa saya jadi suka membicarakan masalah-masalah sosial, dan juga filsafat. Saya juga sangan enjoy dengan bidang satu itu. Saya sebut enjoy karena sisi saya yang curious selalu tergelitik, dan saya merasa nyaman dengan keadaan itu.
Overall, buku ini sangat informatif, dan juga benar-benar membuka pikiran. Rp.60.000,-- menurut saya sangat pantas dikorbankan untuk buku ini, dan saya benar-benar bersyukur telah melakukannya. (:
Buku ini sangat recommended sekali untuk kalangan awam, dengan harapan dari saya sendiri, buku ini bisa jadi pembuka pikiran untuk mereka. Selain itu, juga recommended untuk kalangan intelektual berpikiran terbuka, dan mereka yang suka dengan diskusi mengenai hal paling sensitif sekalipun, tanpa melibatkan emosi di dalamnya. (:
7/25/2012
#TWITTERDRAFTS
#1
July 25th, 2012. Wednesday.
13:11.
Iya ini twitter, tapi bukan, ini bukan bilik pengakuan dosa, jadi ngapain bedoa disini? Emang Tuhan ngetweet?
Subscribe to:
Comments (Atom)

