Waktu itu harinya panas banget. Tapi tetep aja, kepala bisa ngasih ide yang menurutku cukup brilian, obvious tapi agak jahat.
Uang di dompet waktu itu 250ribu. Rencananya sih buat bayar kos untuk bulan Juli, tapi tiba-tiba aku tepikir, “Oya, mama kan nanti ngirimin uang buat catering sama kos pas tanggal 30.” Uang yang dimaksud berjumlah sekitar 600an. Kemudian, dengan sendirinya, pikiran ini disambung dengan sebuah pikiran lain, “catering kan masih banyak kuotanya, dan katanya untuk September aku gak perlu bayar.”
NAH!!
Aku literally ngomong “NAH!!” waktu itu. Untung aja, itu pas di kamar kosan. Dan teriakanku gak terlalu keras.
Singkat cerita, aku mutusin untuk ke toko buku Karisma yang walaupun lumayan jauh tapi udah termasuk toko buku yang menurutku mumpuni. Jadi, saat panas-panas terik, aku pun melangkahkan kaki ke sana. Took me 10 minutes, tapi pas di tengah perjalanan ke sana, sebuah judul muncul di kepalaku.
dan Hujan pun Berhenti...
Aku pertama ngeliat buku itu juga pas di karisma, tapi pas itu uangku kurang. Padahal jangkar dia udah tertambat. Terpaksa deh tak lepas. -__-
Akhirnya, pas sampe di karisma, langkah kakiku yang mantap pun kuarahkan pada buku yang mungkin, tanpa kusadari, gak pernah ngelepas tambatan jangkarnya ke hatiku. *X)*
Sesampainya di kosan, bener-bener gak tahan walaupun hati kecil udah bilang, “gak usah dibuka plastiknya, nanti aja. Tunggu kamu selese baca yang lain.”
Tapi tetep aja, gatalnya tangan-tangan ini lebih kuat dari pada sugesti hati kecilku itu.
dan Hujan pun Berhenti... adalah novel karya mbak Farida Susanty (@faridasusanty), yang kemudian kuketahui juga adalah penulis cerpen di kumcer Karena Kita Tidak Kenal yang betengger di wish listku di bukabuku.com.
Hal yang paling, PALING pertama aku tangkap adalah tulisan kecil dibawah judul biru novel itu.
“kamu mau bunuh diri?”
“ya, asal tidak hujan...”
Dari situ, dan setelah baca ringkasan sangat pendek dibelakangnya, aku jadi ngira, ini novel akan dark banget.
Dan ternyata bener. Walaupun kemasan bahasanya itu seperti anak muda pada umumnya (mbak farida pas nulis novel itu masih umur 17 tahun) dan diselingi dengan humor, novel itu gelap. Dark. Sangat, sangat dark. Morbid, seperti yang diungkapkan oleh seorang mahasiswa yang membacanya.
Buku ini berhasil ngebuat aku gak ngelepas mataku dari halaman-halamannya for a straight 7 hours! Iya! 7 JAM!! Dan ini baru terjadi untuk pertama kalinya. Aku yakin, unsur dark dari novel itu sangat berperan penting dalam hal ini.
Tapi endingnya, men. Endingnya, terang banget. Aku aja sampe [hampir] terharu. Rasanya, aku udah bisa ngeliat endingnya, tapi karena kegelapan yang harus kulewati untuk sampai ke ending itu, yang bener-bener pitch black, ngebuat aku jadi [hampir] terharu.
Overall, buku ini bagus. Banget. Bagus banget. Unsur dark, pitch blacknya, benar-benar terasa, dan endingnya bener-bener pas. Gak lebih. Gak kurang. Membaca buku ini seperti bertualang, dituntun masuk ke dalam sebuah goa di tengah metropolitan, lalu sang penuntun itu hilang entah kemana sedangkan goa itu benar-benar gelap, tanpa ada penerangan sama sekali, dan di jalan keluarnya, kamu nemuin sebuah Shangri-la. Dan itu pantes banget buat mendeskripsikan petualangan yang disajikan buku ini. (:
Recommended untuk penulis-penulis muda yang juga sedang belajar menulis cerita-cerita dark, dan juga mereka yang mau keluar dari comfort zone, meninggalkan cahaya mereka sebentar, dan bertualang di goa gelapnya buku ini.

No comments:
Post a Comment