3/31/2014

Terbungkam

Pergerakan animasi.
Goresan pena digital yang statis.
Rangkaian huruf dengan gambar yang bernilai lebih banyak.

Suara itu. Suara yang selalu menyapa dengan nada mengejek. Suara yang selalu mendorong kata-kata kembali turun melalui tenggorokan.
Suara yang terhias kejujuran di segala sudutnya.

Ia terbungkam. Gumaman pun bahkan tak terdengar. Dia hanya duduk disana. Dalam posisi kaki terlipat, bersila, di depan pintu merah itu. Kepalanya tertunduk. Kedua lengannya terikat di pergelangan tangan. Secarik kain menutup rapat matanya dari cahaya dunia.

Helpless...
Blinded...
Silenced...

And yet...

Bahu itu bergerak. Dan seketika, suara tawa memenuhi telinga.
Ia masih terbungkam.
Ia masih terikat.
Ia masih tak berdaya.

Dan disini, aku berdiri, bergetar menatap bahunya yang bergerak naik turun.
Suara tawa itu semakin keras.

IA MASIH TERBUNGKAM!!!

then...

Kepalanya perlahan bergerak,
semakin naik,
dan berhenti,
ketika kain yang menutup matanya,
menatapku tepat di kedua mata.

Suara tawa itu hilang...

"Miss me?"
.
.
.
.
.
ucapnya.

No comments: