Aku sudah lupa, berapa jumlah hujan dan malam yang sudah aku lewati. Aku bahkan tidak tau ini hari apa. Jarum pendek jam tangan perak yang duduk di depanku, di atas sebuah buku putih, menunjuk ke arah 10, sedang jarum pendeknya ke arah 2. Seakan jamku sendiri tersenyum bangga dengan usahaku ini. Dan darinya, terbaca sebuah ungkapan semangat yang ditujukan padaku tentunya.
Sebuah kotak kecil di tempat yang seharusnya berada angka 3 menunjukkan angka 13.
Di suatu titik di masa lalu, tepat di tanggal yang sama, aku bertabrakan dengannya. Tumpukan buku yang dia bawa di depan tubuhnya menyebar ke tanah yang sekarang aku duduki. Instingku langsung berjalan, mengalihkan kedua tanganku dari tali tas selempang yang melintas di depan dadaku, ke buku-bukunya yang terhambur di jalan.
“I’m really sorry.” Aku mengambil 2 buku yang tertelungkup.
Saat itu dia mengenakan baju yang sama dengan yang terakhir kuingat dipakainya; kemeja kotak-kotak berwarna biru gelap yang semua kancingnya terbuka dan di dalamnya sebuah t-shirt putih dengan tulisan di tengahnya.
SPEAKS
SARCASM
Rambut hitamnya yang sedikit kusut diikat ke belakang, dalam gaya ekor kuda. Dua lensa tipis ber-half-frame melindungi kedua matanya.
I can’t help but wonder what her name is.
“Tidak pa-pa. Saya yang seharusnya minta maaf, karena tidak melihatmu. Maaf sekali ya.” Suaranya lembut. Suara yang hanya miliknya, dan akan langsung aku kenali jika aku mendengarnya lagi.
Aku membalik sebuah buku putih di peganganku, dan tertegun secara tiba-tiba. “Kamu suka Extremely Loud & Incredibly Close juga?”
“Suka?? I love it!!” Antusiasme menggema jelas di nada suaranya.
“Wow.” Aku sedikit tertawa rendah. “Hampir semua toko buku di Balikpapan ini udah aku datangin, tapi gak ada satupun yang punya stoknya.”
“Mungkin kamu belum datangin semua.” Senyumnya menyimpan sesuatu. Aku pun mengejarnya.
“Maksudmu?”
“Kita buat perjanjian deh.” Dia berhenti sebentar, sambil bibir bawahnya bergerak-gerak. Aku kemudian tau kalau itu caranya berpikir. Sedang senyum itu masih terukir. “Aku akan antar kamu ke tempat yang jual buku itu, dengan syarat kamu harus bantu aku.”
“DEAL!,” kataku refleks sambil menjulurkan tangan, yang kemudian akan aku sesali, karena setelah membantunya hari itu, bahuku sakit selama 2 hari.
Dia menyambut tanganku, dan menggoyangnya ke atas dan bawah sekali. “Deal!”
Aku pun mengambil 5 buku darinya, setengah dari yang tadi dibawanya. Tiba-tiba, aku teringat. “Oh iya! Aku Adam.”
“Anes,” jawabnya sambil tersenyum.
Dan disinilah aku.
Duduk di sudut jalan, sementara sejumlah orang di depanku menatapku iba. Ada juga yang tatapannya penuh tanda tanya. Beberapa orang yang lewat di belakang mereka untuk sekedar melihatku memberi tatapan yang seperti berkata, “bodoh banget”.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita yang memegang mike dan seorang pria yang memanggul sebuah kamera besar menyeruak masuk melalui dinding manusia itu. Dia bertanya padaku tentang berbagai hal. Motifku. Sejak kapan aku disini. Dan yang paling membuatku sedikit lega, pesanku.
“Anes. Kalau kau ingin menemuiku, ingat saja perjanjian pertama yang kita buat dulu. Disanalah aku duduk, menunggumu, sampai suatu saat.”
--Terinspirasi dari MV The Sript, The Man Who Can’t Be Moved. (:--
No comments:
Post a Comment