7/25/2012

Feelless


23:39. July 20th, 2012. Friday.

Jari-jari tangan kananmu memeluk gagang itu. Jari-jari tangan kirimu memeluk jari-jari yang kanan. Mereka semua sedikit bergetar.
Matamu menatap mereka saat itu. Tatapan itu datar. Ekspresi senada. Aku tak bisa menangkap apa-apa; atau justru, kehampaan itu yang kutangkap.
Tak taulah.
Otakku terlalu padat untuk menambah satu pikiran lagi.

Kemudian, aku menunduk. Aku menatap ujung gagang yang menyentuh perutku. Aku mencoba fokus, sampai-sampai dahiku mengkerut. Tapi tetap saja, aku tidak bisa merasakan apa-apa.
Tangan kananku bergerak ke arah perut tempat gagang itu menempel, kemudian menyapunya pelan dan menatap telapaknya. Cairan merah menodainya.
Tapi tetap saja, kehampaan adalah satu-satunya yang aku rasa.

Seketika, hanya satu hal yang ada di otakku.
Kebingungan.
Dan ia tidak meninggalkan ruang sekecil apapun di otakku. Setiap sudut, setiap centi lantai, dinding dan atap otakku, semua dipenuhinya. Seakan otakku telah menjadi padat karenanya.

Aku mengangkat kepalaku, menatap matamu yang juga sedang melakukan hal yang sama. Masih saja, aku hanya menangkap kehampaan.
Aku menaruh tanganku di kaca ini. Tepat di depan wajahmu. Ingin rasanya mengeluskan tanganku di pipi itu. Melingkarkan tanganku di bahu itu. Atau sekedar menggantikan gagang di tanganmu dengan tanganku.
Tapi kaca ini masih berdiri. Kaca yang --padahal-- 13 hari lagi akan pecah.

Aku kembali menunduk, menatap genggaman tanganmu di gagang itu, kemudian ke besi perak yang tersambung dengan gagang itu.
Tiba-tiba, sebuah tangan lain memelukkan jari-jarinya di tanganmu. Lalu, 1 lagi tangan memeluk tangan yang tadi. Aku pun mengangkat kepala.
Tatapanku lurus, menabrak 1 pasang mata lain yang berdiri tepat di belakangmu. Di mata dan senyum itu, aku menangkap sesuatu yang jahat. Tiba-tiba, perutku terdorong ke belakang. Aku menunduk, dan tidak menemukan besi perak itu. Ujung gagang itu telah sepenuhnya menyentuh perutku.

Aku pun dibuat tuli oleh teriakanku.

No comments: