Buku kumcer yang saya beli di siang hari di Duta Mall
Banjarmasin setelah menemani my evil twin sista ke kampus unlam di kota itu.
Sebenarnya, buku ini bukan buku pertama yang saya pegang
teguh dan membuat saya berkata dalam hati, “Sip, beli ini.” Yang itu lain lagi
ceritanya. InsyaAllah, akan saya review juga buku itu.
Saya berkeliling di gramedia DM sekitar 10-15 menit waktu
itu. Hanya berkutat di sekitar bagian novel, teenlit dan komik. And for dear
God, jangan situ kira saya suka teenlit. Kalaupun buku paling terakhir di dunia
yang belum punah bergenre itu, MUNGKIN saya akan pertimbangkan untuk baca. Anyway,
setelah cukup lama berkeliling, saya tidak juga bisa menemukan buku kedua yang
pas. Kalaupun ada, entah ia terlalu mahal atau stoknya sedang tidak ada.
Contohnya, buku pertama dari seri Supernova yang ditulis
oleh kak Dee Lestari. Pertama kali melihat buku itu sekitar 2-3 bulan yang
lalu, saya langsung terkesima. Seperti ada jangkar yang keluar dari sampulnya
dan menambatkan ujungnya tepat di ‘hati’ saya. Tapi, sayangnya, saya sudah
mendapatkan yang saya cari, 3 buku yang 2 diantaranya tidak menyesal saya
membelinya.
Dan akhirnya, setelah mungkin 3 kali berkeliling di 3 area
tersebut, saya memutuskan untuk keluar. Bukan. Bukan keluar dari Gramedianya,
tapi keluar dari area tersebut. Kaki saya pun menuruti persetujuan otak dan
‘hati’ untuk mengarahkan langkahnya ke bagian ‘novel indonesia’ dan ‘novel
terjemahan’. Yang pertama saya kunjungi adalah yang kedua. Dan lagi-lagi, saya
dihadapkan pada 2 faktor tadi; terlalu
mahal atau tidak ada.
That leaves me with 1 last resort; ‘novel indonesia’. Di
bagian ini, hanya di kota yang berbeda, saya menemukan satu buku lain yang
mungking karena keunikannya, saya sampai sekarang belum bisa selesaikan. Dan
dibagian ini pulalah, sebuah jangkar lain kembali bertambat di ‘hati’ saya.
Perempuan Yang Melukis Di Wajah adalah kumcer dari 8 penulis
yang berbeda. Di dalamnya, 11 cerpen
tercetak dan terlayout, yang semuanya bertempat pada 1 setting yang familiar;
rain-swept mother Earth. Bumi, di tengah tangisannya.
1 hal yang menarik perhatian saya adalah Hanny Kusumawati
(@beradadisini). Di buku ini, dia penyumbang yang paling banyak; 3 cerpen! Dan
ketiga-tiganya adalah yang melahirkan cerpen Anggur Kuning saya. Dan selain
latar hujan, ketiga cerpen ini memiliki 1 kesamaan lain; Foreign. Dalam arti
yang harafiah. Ya. Ketiga cerpen ini berlatar tempat di kota-kota di luar Indonesia.
Hal ini pertamanya cukup mengherankan untuk saya, sampai saya mengira kalau kak
Hanny ini adalah orang luar. Tapi, setelah membaca bio singkatnya di beberapa
halaman terakhir kumcer ini, dan tulisan-tulisan di websitenya, saya jadi
maklum.
Judul kumcer ini diambil dari sebuah cerpen di dalamnya,
tulisan seorang Karmin Winarta. Cerpennya cukup menarik, dan bagian yang paling
membekas adalah endingnya, karena saya akan berpendapat lain jika kalimat
terakhir cerpen itu dihilangkan.
Overall, it was a great experience. Bisa membuat saya
teringat yang di Balikpapan maupun masa lalu, tertawa rendah dan sinis dan
bahkan, Alhambulillah, menginspirasi saya untuk menulis. Apalagi, selama saya
membaca kumcer ini, mother Earth cries lightly. A coincidence that I try not to
think about too much. Recommended baik untuk pembaca awam dan yang sedang
belajar menulis sebagai asupan ringan di tengah kesibukan.
2 comments:
Hi, Alvin! Terima kasih banyak untuk review-nya, ya :) Dari cerpenku memang banyak yang setting-nya di tempat-tempat asing, tapi yang total asing hanya Yang Tertinggal :D Untuk Humsafar dan Enam Jam momen-momen sedihnya terjadi di Indonesia, kok ;) Thanks so much for the review, dan makasih juga sudah mampir ke blog aku. Please stay in touch! - Hanny -
Iya, jadi nambah pengetahuan juga kak, tentang yg diluar itu. Feelingku kakaknya ini traveller, soalnya tau banget negara2nya. Dan ternyata bener. (: I certainly will, kak. (:
Post a Comment