02:09. July 14th, 2012. Saturday.
Kuning.
Bukan. Jingga!
Lampu jalan antar provinsi yang berwarna jingga ini masih setia menemaniku. Aku lupa sudah berapa detik aku disini. Mungkin ratusan. Mungkin ribuan. Tapi, lampu jingga ini masih setia.
Beberapa kendaran berlalu lalang. Sebagian besar berwarna putih keperakan. Ada juga biru gelap. Sebagian kecil ada yang berwarna merah, kuning, dan kadang biru. Semua jenis kendaraan, dalam semua merek, melewati jalan utama ini dengan tujuan mereka masing-masing.
Aku berdiri di depan sebuah gedung putih. 4 rolling doornya telah turun, tertutup rapat menyembunyikan mobil berbagai warna. Tanah gedung putih ini lapang, dan seperti yang lainnya, ia tersiram warna jingga walaupun sebenarnya ia krem keputihan.
Kau saat itu berada di arus timur. Aku harus melewati arus barat, sebuah pembatas jalan setinggi pinggang yang berwarna merah darah, dan arus timur jalan ini. Kau dengan pakaian serba merah mudamu, berdiri di tepi jalan, tapi tidak di atas trotoar. Kedua tanganmu di depan tubuhmu, tergantung dari bahu yang akhirnya bersatu untuk memegang sebuah dompet ungu. Auramu juga ungu. Dan ia cocok dengan pakaian serba merah mudamu.
Kau saat itu memfokuskan matamu ke barat. Sesekali, kau mengangkat tangan kananmu, melihat jarum putih pendek di jammu yang –juga- berwarna merah muda. Sesekali juga, tangan kirimu meraih kantong rok panjangmu untuk melihat layar ponsel sebentar, sebelum akhirnya menyembunyikannya lagi di tempat yang sama.
Tiba-tiba, sehelai rambut hitammu jatuh. Kau pun mengusapnya ke samping dengan tangan kirimu. Sebuah lingkaran emas memeluk jari manismu. Melihatnya, aku tersenyum. Aku masih ingat betul kata-kata di dalamnya.
Kita. Selamanya.
Aku kembali tersenyum, sambil menelan tawa kecil mengingat perdebatan kita tentangnya.
Tiba-tiba, kau melambaikan tanganmu. Kau tersenyum. Kau masih tersenyum, ketika tanganmu telah turun. Kemudian, sebuah motor hitam menghentikan roda depannya beberapa senti di depanmu.
Aku mengerutkan dahi. Mataku menatap pria itu tajam. Kemeja pria itu biru langit. Wajahnya yang tersenyum juga seakan memancarkan aura biru langit. Aura itu kau serap, dan ungumu pun bertambah kuat.
Namun, dari dada kiri pria itu, mengalir keluar aura hitam.
Bukan. Bukan aura. Lebih seperti asap, hitam pekat, yang bocor dari sebuah lubang di dada kiri pria itu, dan asap itu mulai merayap di sekitar rokmu.
Aku tidak seharusnya berada disini. Tapi, Tuhan mengijinkanku untuk tetap disini, untuk menolongmu di saat waktunya tepat, sebelum akhirnya Dia memanggilku ke dimensiNya. Dia menawarkan itu, dengan satu syarat.
Aku tidak akan termasuk dalam spektrum warna.
Aku terima saja.
Dahiku masih berkerut. Mataku masih menatap tajam pada pria yang memberikanmu helm yang sekarang kau pakai di kepalamu.
Motor itu mulai menambah kecepatannya.
Aku pun melayang, memotong arus barat yang sedang dilewati beberapa kendaraan, menembus pembatas jalan berwarna merah darah dan melaju bersama angin dan arus timur.
No comments:
Post a Comment