23:24. July 12th, 2012. Thursday.
Gelas kaca bening yang penuh berisi air kuning jernih adalah
hal pertama darimu yang kutangkap saat aku masuk ke bar ini. Setiap kali aku
mengatakan, “Itu Anggur Putih”, kamu selalu saja membantah, “Bukan! Ini Anggur
Kuning!,” dan kemudian, kamu akan menjelaskan dengan panjang lebar tentang
spektrum warna dan kebiasaan manusia.
Asap tipis mengepul naik melewati sisi kanan wajahmu. Rokok
itu dengan tenang duduk di asbak putih yang aku yakin kamu bawa sendiri dari
rumah.
Kamu sendiri saat itu sedang menatap keluar. Headset putih
menyumbat telinga kananmu, dan aku yakin juga telinga kiri. Dagumu bertumpu
pada telapak tangan kirimu. Matamu yang terlindung kacamata itu sepertinya
sedang bercinta dengan gerimis di luar sana.
Kamu tidak bergeming saat aku telah duduk di hadapanmu. “Air
mineral,” aku menatapmu sebentar, lalu, “dua.”
Aku melepas tas punggungku, dan menaruhnya di samping meja.
Saat aku menatapmu, headset itu sudah tidak ada, dan jari-jari tangan kirimu
menari di atas keypad ponselmu.
“Udah lama?,” Ucapku membuka, sementara mataku menatap
tarian jari-jarimu.
“Ini baru gelas pertama,” balasmu, setelah tanganmu
menyembunyikan ponsel di kantong kiri jaket abu-abumu.
Aku baru sadar kalau punting rokok itu masih lumayan
panjang, seperti baru dibakar. Tangan kiriku terjulur, dan menekan ujungnya
yang terbakar ke alas asbak itu.
“Itu rokok terakhirku.” Nadamu terdengar seperti “Belikan aku sebungkus lagi”.
Aku tersenyum, dan akhirnya, menatapmu.
Tulang pipimu yang kentara adalah hal pertama yang menangkap
perhatianku. Warna kulitmu yang pucat adalah yang kedua. Dan wajahmu yang penuh
bekas jerawat adalah yang ketiga.
Kamu kembali berpaling. Tangan kananmu kembali menopang
dagumu. Suara butiran air yang memukul-mukul kaca di kanan kita samar-samar
terdengar.
Aku menatap t-shirt hitammu. “I’m sorry.”
Bisa kurasakan matamu yang melirikku sebentar, sebelum
akhirnya menatap menembus kaca lagi. “Untuk?”
Aku tercekat. Otakku mulai panik mencari balasan yang tepat.
Kamu tertawa rendah. “Jangan minta maaf deh kalo gak ada
salah apa-apa.”
Sesuatu di dalam diriku rasanya ingin meledak. Keluar ke
dunia melalu kedua mataku. “Rasanya, cuma itu yang terpikir sekarang...” Sangat
jarang aku bisa mendengar kelirihanku sendiri.
Aku mendengar helaan nafasmu. “Jam berapa nanti acaranya?”
Aku menunduk, dan mengangkat tangan kananku. Setelah itu,
aku kembali menatap t-shirt hitammu. “10 menit lagi.”
“Terus, kenapa masih disini? Nanti kamu terlambat.”
Aku menatapmu. “Kamu?”
Matamu masih menatap menembus kaca. Tanganmu masih menopang
dagumu. “Kenapa aku?”
Aku mengisi mataku dengan iba. “Kamu gimana?”
Ujung bibirmu yang tidak tertutup jari-jarimu membentuk
lengkungan, memperihatkan sebuah lesung pipit yang tipis. Lalu, tangan penopang
dagumu turun, dan matamu menatapku. “I’ll
be fine.” Mata dan bibirmu tersenyum.
Aku merasakan sesuatu, dari sudut mata kananku, perlahan
turun menyusuri pipi. Aku mengusapnya dengan punggung tanganku.
“Cengeng.”
Aku tersenyum. Aku kembali menatap t-shirt hitammu.
“Good luck ya. Jalani
aja dengan ikhlas.”
Ponselku bergetar. Aku mengambilnya dari kantong kanan
jaketku.
“Kmu dmn?”
“Maryam ya?,” tanyamu.
“Iya.” Jari-jariku menari di atas keypad ponsel. “Bar yg dulu. Tenang aja. Ini yg terakhir.
(;” adalah yang kubaca, sebelum akhirnya mengakhiri tarian jariku di tombol
‘kirim’.
“Aku tarik permintaan maafku tadi.” Aku mengangkat kepalaku,
dan menatap kursi kosong di depanku. “Thank
you. It’s been a wonderful ride.”
Aku memberikan kursi kosong itu sebuah senyuman, dan mengambil tasku di samping
meja.
Aku berdiri, dan memanggul tas itu di punggung. Lalu, aku
menarik resleting jaket abu-abuku untuk menutupi t-shirt hitam di dalamnya. Aku
kembali menatap kursi kosong itu. Sebuah tersenyum kembali terukir.
“Bye.”
No comments:
Post a Comment