7/13/2012

Anggur Kuning


23:24. July 12th, 2012. Thursday.

Gelas kaca bening yang penuh berisi air kuning jernih adalah hal pertama darimu yang kutangkap saat aku masuk ke bar ini. Setiap kali aku mengatakan, “Itu Anggur Putih”, kamu selalu saja membantah, “Bukan! Ini Anggur Kuning!,” dan kemudian, kamu akan menjelaskan dengan panjang lebar tentang spektrum warna dan kebiasaan manusia.
Asap tipis mengepul naik melewati sisi kanan wajahmu. Rokok itu dengan tenang duduk di asbak putih yang aku yakin kamu bawa sendiri dari rumah.
Kamu sendiri saat itu sedang menatap keluar. Headset putih menyumbat telinga kananmu, dan aku yakin juga telinga kiri. Dagumu bertumpu pada telapak tangan kirimu. Matamu yang terlindung kacamata itu sepertinya sedang bercinta dengan gerimis di luar sana.
Kamu tidak bergeming saat aku telah duduk di hadapanmu. “Air mineral,” aku menatapmu sebentar, lalu, “dua.”
Aku melepas tas punggungku, dan menaruhnya di samping meja. Saat aku menatapmu, headset itu sudah tidak ada, dan jari-jari tangan kirimu menari di atas keypad ponselmu.
“Udah lama?,” Ucapku membuka, sementara mataku menatap tarian jari-jarimu.
“Ini baru gelas pertama,” balasmu, setelah tanganmu menyembunyikan ponsel di kantong kiri jaket abu-abumu.
Aku baru sadar kalau punting rokok itu masih lumayan panjang, seperti baru dibakar. Tangan kiriku terjulur, dan menekan ujungnya yang terbakar ke alas asbak itu.
“Itu rokok terakhirku.” Nadamu terdengar seperti “Belikan aku sebungkus lagi”.
Aku tersenyum, dan akhirnya, menatapmu.

Tulang pipimu yang kentara adalah hal pertama yang menangkap perhatianku. Warna kulitmu yang pucat adalah yang kedua. Dan wajahmu yang penuh bekas jerawat adalah yang ketiga.

Kamu kembali berpaling. Tangan kananmu kembali menopang dagumu. Suara butiran air yang memukul-mukul kaca di kanan kita samar-samar terdengar.
Aku menatap t-shirt hitammu. “I’m sorry.
Bisa kurasakan matamu yang melirikku sebentar, sebelum akhirnya menatap menembus kaca lagi. “Untuk?”
Aku tercekat. Otakku mulai panik mencari balasan yang tepat.
Kamu tertawa rendah. “Jangan minta maaf deh kalo gak ada salah apa-apa.”
Sesuatu di dalam diriku rasanya ingin meledak. Keluar ke dunia melalu kedua mataku. “Rasanya, cuma itu yang terpikir sekarang...” Sangat jarang aku bisa mendengar kelirihanku sendiri.
Aku mendengar helaan nafasmu. “Jam berapa nanti acaranya?”
Aku menunduk, dan mengangkat tangan kananku. Setelah itu, aku kembali menatap t-shirt hitammu. “10 menit lagi.”
“Terus, kenapa masih disini? Nanti kamu terlambat.”
Aku menatapmu. “Kamu?”
Matamu masih menatap menembus kaca. Tanganmu masih menopang dagumu. “Kenapa aku?”
Aku mengisi mataku dengan iba. “Kamu gimana?”
Ujung bibirmu yang tidak tertutup jari-jarimu membentuk lengkungan, memperihatkan sebuah lesung pipit yang tipis. Lalu, tangan penopang dagumu turun, dan matamu menatapku. “I’ll be fine.” Mata dan bibirmu tersenyum.
Aku merasakan sesuatu, dari sudut mata kananku, perlahan turun menyusuri pipi. Aku mengusapnya dengan punggung tanganku.
“Cengeng.”
Aku tersenyum. Aku kembali menatap t-shirt hitammu.
Good luck ya. Jalani aja dengan ikhlas.”
Ponselku bergetar. Aku mengambilnya dari kantong kanan jaketku.
“Kmu dmn?”
“Maryam ya?,” tanyamu.
“Iya.” Jari-jariku menari di atas keypad ponsel. “Bar yg dulu. Tenang aja. Ini yg terakhir. (;” adalah yang kubaca, sebelum akhirnya mengakhiri tarian jariku di tombol ‘kirim’.
“Aku tarik permintaan maafku tadi.” Aku mengangkat kepalaku, dan menatap kursi kosong di depanku. “Thank you. It’s been a wonderful ride.” Aku memberikan kursi kosong itu sebuah senyuman, dan mengambil tasku di samping meja.
Aku berdiri, dan memanggul tas itu di punggung. Lalu, aku menarik resleting jaket abu-abuku untuk menutupi t-shirt hitam di dalamnya. Aku kembali menatap kursi kosong itu. Sebuah tersenyum kembali terukir.
Bye.

No comments: