7/13/2012

Payung Kuning


20:17. July 11th, 2012. Wednesday.

 “Rasanya mati gimana sih?”
Wanita yang duduk di sampingnya langsung menengok ke kirinya. Dengan dahi yang berkerut dan tatapan mata dipenuhi kebingungan, wanita itu bertanya, “Maksudmu??”
Lelaki yang bertanya tetap menunduk. “Mati. Bisa kasih tau gak, rasanya?”
“Untuk apa kamu nanya yang kayak gituan??”
“Yaa aku penasaran aja, mati itu rasanya gimana.”
Tatapan sang wanita tidak beralih. Kebingungan di matanya tergantikan dengan kemakluman. “Nanti kamu juga ngerasain kok.”

Sang laki-laki masih menunduk. Siku kedua tangannya masih bertumpu di masing-masing pahanya. Telapak tangannya menyatu, jari-jari tangan yang satu mengisi ruang di antara jari-jari tangan yang lain. Kedua tangan itu memeluk sebuah kotak hitam panjang.
Suara gerimis diluar mengisi kesunyian diantara dua ciptaan Tuhan di dalam kamar itu, melalui sebuah jendela yang terbuka tepat di belakang mereka. Kedua insan ini duduk di atas sebuah tempat tidur. Seprai putih yang berantakan menjadi pembatas antara mereka dan kulit kasur.

“Ingat gak, pas di halte dulu?” Sang lelaki masih menunduk. Matanya menatap kotak di tangannya.
Sang wanita tersenyum. Dia masih menatap ke depan, kepala sedikit mengarah ke atas. “Bagian yang mana? Kamu yang kesiram air atau kita yang jalan 2 kilo lebih?”
Sang lelaki tersenyum. “Yang jalan 2 kilo.”
“Emang kenapa? Kayaknya kita gak dapat apa-apa kecuali basah dan pilek setelahnya.”
“Aku masih nyimpan payung kuning itu.”
Senyum sang wanita perlahan menghilang. Matanya sekarang dipenuhi keibaan. “Kenapa gak dijual aja?”
Dahi sang lelaki berkerut. Matanya mulai dipenuhi amarah. Lalu, dia menengok ke kanannya. “Maksud kamu??”
Sang wanita masih menatap ke depan. “Yaa dijual, lewat garage sale. Payung itu, dan barang-barang yang lainnya.”
“Dan kalau aku gak mau??,” kata sang laki-laki dengan nada tinggi.
Sekarang, wanita itu menatap kakinya. “Daripada bedebu, dan cuma duduk diam di bawah tempat tidur ini.”

Amarah di mata sang lelaki perlahan menghilang. Lalu, tatapannya turun, dan berhenti di tangan sang wanita yang sedang bertumpu di atas kasur. Lelaki itu menarik jari-jari tangan kanannya, dan mengisi ruang di antara jari-jari tangan kanan itu dengan jari-jari tangan kiri sang wanita. Jari-jari kirinya masih memeluk kotak hitam panjang itu.
Sang wanita langsung berpaling, menatap tangan kirinya.
“Aku gak bisa.” Lelaki itu masih menunduk.
Sang wanita mengalihkan tatapannya ke sang lelaki. “Kamu bisa kok.”
“Aku gak bisa. Aku gak mau bisa. Aku gak boleh bisa, ve.” Sang lelaki mengangkat kepalanya dan menatap mata sang wanita. “I love you too damn much.”
Sang wanita mengulurkan tangannya. Jari telunjuknya menghapus setetes air yang mulai turun dari mata kiri sang lelaki. Setelah itu, tangannya mengelus pipi sang lelaki. “Kalau gitu, setelah ini selesai, temui dia untukku. Aku sudah senang di sana, sama Dia. Saatnya kamu cari kebahagiaanmu sendiri, sayang.”
“Tapi aku masih sayang sama kamu, ve.” Setetes air kembali turun dari sudut mata sang lelaki.
Sang wanita tersenyum. Kemudian, telunjuknya menyentuh bibir sang lelaki. “Ini mungkin bisa bohong, sayang,” kemudian, telunjuk itu berpindah, ujungnya menyentuh dada sang lelaki, “tapi inimu yang enggak, sayang. Dengarkan, dan ikutilah kata-katanya. Temui dia, sebelum jarak ratusan kilo misahin kalian berdua.”
Sang lelaki mengeratkan genggaman tangan kirinya. Lalu, dalam sekejap mata, sebuah pisau telah bersarang di dada kiri sang wanita. Sambil perlahan menarik tangan kirinya dari gagang pisau itu, kepala sang lelaki perlahan tertunduk. Kedua kelopak telah matanya menutup.
“Makasih ya, dam...,” kata sang wanita lirih.
Sang lelaki mengangkat kepalanya, dan menatap sang wanita yang tersenyum.

Mata sang lelaki langsung terbuka. Lalu, punggung tangannya menyapu pelan pipi kirinya. Setelah itu, dia menarik nafas panjang, dan mengambil sebuah payung kuning di samping tempat tidurnya. Dia berdiri, dan berjalan ke depan. Sang lelaki mengambil bingkai foto yang tergantung di dinding di depannya dan setelah menatapnya sebentar, dia melempar bingkai itu ke atas kasur.

Di dalamnya, seorang lelaki mencium dahi seorang wanita, sementara satu telapak tangan sang lelaki berada di belakang kepala sang wanita yang tidak lagi memiliki rambut.

Lelaki itu membuka payungnya. Tanpa menengok, dia menutup pintu itu dan berjalan menembus hujan di bawah lindungan payung kuning mereka.

No comments: