20:17. July 11th, 2012. Wednesday.
“Rasanya mati gimana
sih?”
Wanita yang duduk di sampingnya langsung menengok ke
kirinya. Dengan dahi yang berkerut dan tatapan mata dipenuhi kebingungan,
wanita itu bertanya, “Maksudmu??”
Lelaki yang bertanya tetap menunduk. “Mati. Bisa kasih tau
gak, rasanya?”
“Untuk apa kamu nanya yang kayak gituan??”
“Yaa aku penasaran aja, mati itu rasanya gimana.”
Tatapan sang wanita tidak beralih. Kebingungan di matanya
tergantikan dengan kemakluman. “Nanti kamu juga ngerasain kok.”
Sang laki-laki masih menunduk. Siku kedua tangannya masih
bertumpu di masing-masing pahanya. Telapak tangannya menyatu, jari-jari tangan
yang satu mengisi ruang di antara jari-jari tangan yang lain. Kedua tangan itu
memeluk sebuah kotak hitam panjang.
Suara gerimis diluar mengisi kesunyian diantara dua ciptaan
Tuhan di dalam kamar itu, melalui sebuah jendela yang terbuka tepat di belakang
mereka. Kedua insan ini duduk di atas sebuah tempat tidur. Seprai putih yang
berantakan menjadi pembatas antara mereka dan kulit kasur.
“Ingat gak, pas di halte dulu?” Sang lelaki masih menunduk.
Matanya menatap kotak di tangannya.
Sang wanita tersenyum. Dia masih menatap ke depan, kepala
sedikit mengarah ke atas. “Bagian yang mana? Kamu yang kesiram air atau kita
yang jalan 2 kilo lebih?”
Sang lelaki tersenyum. “Yang jalan 2 kilo.”
“Emang kenapa? Kayaknya kita gak dapat apa-apa kecuali basah
dan pilek setelahnya.”
“Aku masih nyimpan payung kuning itu.”
Senyum sang wanita perlahan menghilang. Matanya sekarang
dipenuhi keibaan. “Kenapa gak dijual aja?”
Dahi sang lelaki berkerut. Matanya mulai dipenuhi amarah.
Lalu, dia menengok ke kanannya. “Maksud kamu??”
Sang wanita masih menatap ke depan. “Yaa dijual, lewat garage sale. Payung itu, dan
barang-barang yang lainnya.”
“Dan kalau aku gak mau??,” kata sang laki-laki dengan nada
tinggi.
Sekarang, wanita itu menatap kakinya. “Daripada bedebu, dan
cuma duduk diam di bawah tempat tidur ini.”
Amarah di mata sang lelaki perlahan menghilang. Lalu,
tatapannya turun, dan berhenti di tangan sang wanita yang sedang bertumpu di
atas kasur. Lelaki itu menarik jari-jari tangan kanannya, dan mengisi ruang di
antara jari-jari tangan kanan itu dengan jari-jari tangan kiri sang wanita.
Jari-jari kirinya masih memeluk kotak hitam panjang itu.
Sang wanita langsung berpaling, menatap tangan kirinya.
“Aku gak bisa.” Lelaki itu masih menunduk.
Sang wanita mengalihkan tatapannya ke sang lelaki. “Kamu
bisa kok.”
“Aku gak bisa. Aku gak mau bisa. Aku gak boleh bisa, ve.”
Sang lelaki mengangkat kepalanya dan menatap mata sang wanita. “I love you too damn much.”
Sang wanita mengulurkan tangannya. Jari telunjuknya
menghapus setetes air yang mulai turun dari mata kiri sang lelaki. Setelah itu,
tangannya mengelus pipi sang lelaki. “Kalau gitu, setelah ini selesai, temui
dia untukku. Aku sudah senang di sana, sama Dia. Saatnya kamu cari
kebahagiaanmu sendiri, sayang.”
“Tapi aku masih sayang sama kamu, ve.” Setetes air kembali
turun dari sudut mata sang lelaki.
Sang wanita tersenyum. Kemudian, telunjuknya menyentuh bibir
sang lelaki. “Ini mungkin bisa bohong, sayang,” kemudian, telunjuk itu
berpindah, ujungnya menyentuh dada sang lelaki, “tapi inimu yang enggak, sayang. Dengarkan, dan ikutilah kata-katanya.
Temui dia, sebelum jarak ratusan kilo misahin kalian berdua.”
Sang lelaki mengeratkan genggaman tangan kirinya. Lalu,
dalam sekejap mata, sebuah pisau telah bersarang di dada kiri sang wanita.
Sambil perlahan menarik tangan kirinya dari gagang pisau itu, kepala sang
lelaki perlahan tertunduk. Kedua kelopak telah matanya menutup.
“Makasih ya, dam...,” kata sang wanita lirih.
Sang lelaki mengangkat kepalanya, dan menatap sang wanita
yang tersenyum.
Mata sang lelaki langsung terbuka. Lalu, punggung tangannya
menyapu pelan pipi kirinya. Setelah itu, dia menarik nafas panjang, dan
mengambil sebuah payung kuning di samping tempat tidurnya. Dia berdiri, dan
berjalan ke depan. Sang lelaki mengambil bingkai foto yang tergantung di
dinding di depannya dan setelah menatapnya sebentar, dia melempar bingkai itu
ke atas kasur.
Di dalamnya, seorang lelaki mencium dahi seorang wanita,
sementara satu telapak tangan sang lelaki berada di belakang kepala sang wanita
yang tidak lagi memiliki rambut.
Lelaki itu membuka payungnya. Tanpa menengok, dia menutup pintu
itu dan berjalan menembus hujan di bawah lindungan payung kuning mereka.
No comments:
Post a Comment