5/16/2012

The Bench




Saat ini, aku sedang duduk di sebuah kursi semi-panjang. 3 orang bisa duduk di atas kursi. Tapi kalau aku adalah pembuat kursi ini, mungkin aku akan memasang tanda “MAX. 2 ORANG!”
Di kursi ini, aku terduduk membungkuk. Sikuku bertumpu di atas lutut, sedangkan kedua telapak tanganku jatuh bebas. Yang kiri menjepit rokok dengan jarinya. Sedangkan yang kanan memeluk secarik kertas, juga dengan jarinya. Setelah beberapa menit menatapi ke arah gerbang itu, aku menunduk, menatap rokokku. Rokok itu sudah habis setengah. Sedari tadi, ia hanya membiarkan tembakaunya habis dihisap udara, bukannya oleh sang pemberi apinya. Lalu, asap rokok itu menyapu wajahku lembut. Aku pun menaruh tanganku yang lain di depan mulut, walau rasanya sia-sia saja menahan batukku dengan cara seperti ini.

“I can’t remember the last time I ever saw you smoking.” Aku langsung membuka mataku ketika mendengarnya. Sepatu heels hitam itu membuatku mengukir sebuah cekungan di wajah.
“Really? I never smoke?” aku menaikkan kepalaku.
“Never was, never is and never will be,” balasnya, yang kemudian diikuti dengan senyuman.
Dia saat itu sedang memanggul payung, melindungi tubuhnya yang terbalut dress sepaha hitam dari panas summer ini. Dia pun menutup payungnya, memasukkannya di tasnya dan mengisi tempat duduk kosong di sampingku. Sialan, aku menatap!

Dia pun menengok ke arahku, kembali memberikanku senyuman yang tadi. Aku memalingkan muka, kembali menunduk dan akhirnya, menghisap rokokku. Tapi, seperti yang sudah kuduga, aku batuk sebelum bisa menghisapnya. Dia pun tertawa.
“You can’t change that one, Al. Not ever.”
“Oh, really?” aku pun menatapnya. “ten bucks says I can smoke it once, without a single cough!”
“Let’s make it a hundred.”
“Deal!” kepalan tangan kananku dan tangan kanannya bertemu, menandakan resminya kompetisi kecil-kecilan yang hampir tiap hari kami lakukan. Kemudian, aku menangkap pandangannya yang menatap kertas di genggaman tanganku. Aku langsung menarik tanganku. Kemudian, aku melempar rokokku dan menginjaknya.
“Why did you do it?” gerakan injakan kakiku berhenti. Aku masih menunduk.
“Did what?”
“Letting such a thing goes.”

Aku menarik nafas, dan menyandarkan punggungku ke kursi. “I have my--”
“Don’t give me that ‘I have my reasons, key’ excuse.” Nadanya berubah datar. Dia tidak menatapku. Tatapannya hanya ke gerbang di depan kami. “Is it because of her?” dia memalingkan kepalanya, dan menatapku lurus di mata.
Untuk sesaat, kami hanya bertukar tatapan, sementara bisikan angin terdengar jelas diantara kami. Akhirnya, tak sampai sedetik, aku berpaling, menatap gerbang itu. “No. It ‘never was, never is and never will be’,” kataku meniru perkataannya tadi, sambil menatapnya dan memasang muka tak berdosa dan senyum yang sama tak berdosanya. Lalu, aku menghilangkan keduanya. “It’s me. It’s always been me.”
Tatapannya bingung. Aku bisa melihat itu dengan jelas. Ada sedikit pengharapn juga disana. Dan lagi-lagi, kesunyian merayap diantara kami. Lalu, “I’m afraid, that if I change things, I’ll just end up making them worse. I’ve already tried it, and you know how it ended.”
“But it was a long time ago! Back when you’re still too fragile and unstable! You didn’t know what you were doing back then!”
“And that is exactly why I made this decision, Keara!” suaraku tanpa sengaja meninggi. Aku pun sadar, dan menarik nafas yang dalam. “Denise died for a reason. She didn’t just transform into another form of energy. HE is trying to tell me something, and I believe I know what it is.”
“You never believed in Him. Or Angels, or Devils. You were just not that kind of man.”
“And that is where I made my biggest mistake.” Aku berhenti sejenak. “Mom died long ago, and I went back many times just to save her again. But no matter how many times I’ve tried, things just ended up worse, and she’d still be dead.”
Dia berpaling. Tertunduk, sambil menghela nafas yang cukup panjang. “I don’t know if I could do this without you, bro.”

Aku pun memegang bahu kirinya, dan mebawa wajahnya untuk menatapku. Sambil mengelus pipinya, aku berkata, “Of all the people in the Department, you’re the only one that is the closest to me. That is why, I believe I’ve made the right decision, leaving all of this to you.” Aku pun menunduk, mengambil tangan kanannya dan membukanya. Kemudian, aku menaruh kertas di genggaman tangan kananku ke telapanknya yang terbuka itu, dan menutupnya.
Tiba-tiba, kedua tangannya melingkar erat di tubuhku. Aku pun merasakan bahu kananku menjadi basah. “I’ll come back, bro, to see how you’re holding up,” katanya lirih.
Aku pun tersenyum. “I will hold up, sis.”

Kami pun melepas pelukan, dan setelah ciuman ringan di kedua pipi, dia pun melangkah jauh dariku, sambil memanggul payung hitamnya lagi. Gerbang di depannya membentuk sebuah vortex, dengan sebuah lingkaran hitam tepat di tengah gerbang itu semakin besar. Perlahan tapi pasti, dia berjalan ke arah lingkaran hitam itu.
Tiba-tiba, dia berhenti. Lalu, dia memalingkan wajahnya ke arahku, dan memberikan sebuah senyuman yang sebentar lagi pasti akan aku lupakan. Juga percakapan kami tadi. Dan waktuku selama 20 tahun di Clockwork Department.
Pandanganku pun semakin kabur, dan badanku mulai oleng ke kanan. Akhirnya, aku terjatuh, terbaring di atas kursi itu. Pandanganku semakin gelap. Hal terakhir yang kulihat adalah Keara yang memasuki gerbang itu, dan gerbang itu menghilang secepat ia muncul.

No comments: