December 13th, 2011. 10.12am.
dia tidak tertunduk, tapi tidak juga bertengadah. kedua tangannya menggenggam erat tali tasnya yg melintang di depan tubuhnya. tubuhnya bergetar. basah di setiap sudut. setiap langkahnya pendek, dengan berani menembus kubangan2 lumpur.
kenapa dia sebodoh itu?, tanyaku pada batin. mataku makin tak ingin lepas darinya. dahiku sedikit mengernyit.
tetap saja. walau aku berpikir keras. membongkar habis kabinet2 sarafku. aku tak bisa menemukan alasan itu.
yang ada, hanya pertanyaan.
apa dia ingin lari? -tapi langkahnya pendek.
apa dia ingin bersembunyi? -tapi dari siapa?
apa dia ingin menghampiri seseorang? -tapi tidak harus menembus hujan ini.
lihat dia. terus berjalan menyusuri tanah kuning itu.
apa dia sedang mencari sesuatu? -kalau iya, dia pasti tertunduk.
apa dia ingin sakit? -kalau iya, dia pasti bodoh.
tiba2 dia berhenti. kemudian, dia menunduk. aku menyipitkan mataku.
akhirnya, aku beranjak.
untuk apa dia menutup matanya?
bahunya bergenti bergetar. tasnya sedikit tertarik ke depan. rambutnya berkilau di bawah langit abu2.
sweaternya. tasnya. jeans birunya. mereka basah sekali.
aku pun memayunginya. tetes hujan mengetuk - ngetuk di atas kami.
"jangan siksa diri kamu kayak gini. gak ada manfaatnya. yang ada, cuma rasa sakit yg lebih banyak yg muncul."
mata kami bertemu, dan kuberikan sebuah senyum hangat.

No comments:
Post a Comment