It's Me, My Stories, My Thoughts, My Days, And Just About Everything That Can Be Written! ^^
12/14/2011
Merah, Dan Terang
mobilku camaro, keluaran 2012.
rumahku 4 lantai, total luas = 2 hektar.
aku punya perpustakaanku sendiri.
perusahaanku adalah penerbit buku dan novel terbaik ketiga.
di dunia.
seharusnya aku bisa tersenyum, melihat itu semua tercakup dalam 1 paragraf.
seharusnya aku bisa melangkah dengan ringan.
seharusnya aku bisa berpikir jernih.
tapi disinilah aku.
menopang daguku dengan tangan. mataku menatap skyline yg tak teratur, dengan gedung chrysler tepat di depanku.
aku berdiri.
aku melangkah ke arah kaca, dan menatap gedung itu.
puncaknya bersinar.
merah.
sangat kontras dengan langit malam. seperti, bintang merah yg bersinar diantara bintang2 putih dan tak terlihat lainnya.
bisakah aku bersinar seperti itu?
atau
apakah aku akan menjadi bintang2 tak terlihat itu...
ditelan gelapnya malam...
walau sebenarnya, energi yg sangat besar terkandung di bintang itu?
puncak yg merah itu tidak ada apa2nya dibanding si bintang tak terlihat.
tapi sinarnya lebih terang.
aku menarik nafas, dan kemudian berbalik.
mataku sama sekali tak melirik ke arah sebuah surat di atas meja kerja.
semoga jembatan itu sepi.
aku menatap ke depan. kemudian, aku menekan tombol tingkat terbawah.
"Selamat sore, sir." laki2 di belakang meja resepsionis sedikit membungkuk.
"oh hey, bob."
"Menikmati sore anda, pak?"
"kinda." aku memaksa sebuah senyum.
"Oh ya, pak. sebelumnya maafkan saya, tapi sepertinya untuk dua minggu ke depan saya harus absen."
langkahku terhenti. dahiku mengkerut. tanganku terlanjur sudah memegang rolling door. aku menengok ke arah Bob. "kok gitu? ada apa memangnya"
"Saya harus menghadiri persidangan sengketa rumah saya, pak."
"lho?? saya kira itu sudah diselesaikan bulan lalu."
"Saya juga mengira begitu. Tapi kalau memang kami kalah, kami masih bisa tinggal di panti, pak, jadi saya tidak akan terlalu khawatir." dia tersenyum.
dahiku berkerut. "Bob, kau harus mulai peduli pada keadaan sendirimu, buddy."
"Terima kasih atas sarannya, pak." dia kembali tersenyum.
aku menghela nafas. "Alright, then. i'll see you in a bit."
selama aku melangkah, aku tertunduk. menatap sidewalk di depanku yg akan kuinjak.
kenapa senyumnya hangat sekali?
kenapa bahunya lebih naik?
kenapa dia merasa ringan?
dan terutama,
kenapa lebih peduli pada panti itu?
anak2 itu. manula2 itu.
dia bukan siapa2nya. hanya 'orang lain'.
sedangkan rumahnya?
tempat dia melepas lelah. tempat dia berteduh. tempat dia mengenang.
kenapa dia begitu rela?
Bob merah sekali.
aku berhenti melangkah. aku menunduk, menatap sepatu pantofelku. kemudian, sebuah kaleng menggelinding, dan berhenti menyentuh sepatu kananku. kemudian, sebuah tangan mengambilnya. mataku mengikuti tangan itu.
seorang gadis kecil sedang duduk di sudut sebuah toko. dia sedang memeluk boneka beruang yg sama kotornya dengan pakaiannya. piyamanya memiliki beberapa noda tanah di sana sini. rambutnya berada di antara keriting dan lurus. ikatan kain putih di pergelangan kakinya memiliki noda merah. di dekatnya, sebuah tas coklat kecil. sang pemilik tangan, yg merupakan seorang anak laki2 kecil, berdiri di depan gadis kecil itu. mulutnya bergerak2.
"careful", "Nina", "our", "last", "food", "or" dan "starving".
hanya kata2 itu yg bisa kutangkap.
kemudian, seorang pria buncit mendatangi mereka.
"Hey! didn't i tell you kids not to hang around here??! this isn't your playground!" cerutu di mulutnya bergerak2 ketika dia meneriakkan kata2 itu. kemudian, dia melihat ke arahku. "hey! are these kids with you??!"
"eee..." aku bingung.
"if they aren't, i'll just call the police to pick em up."
"no, don't. yeah. they're- they're with me."
pria itu menghela nafas keras, dan berbalik pergi.
aku berjalan mendekat ke arah mereka. "where's your home, kids?"
"Arizona." jawab laki2 kecil itu.
"What?? Wow! You kids are a long way from home! come on, i'll take you to my apartment until we can find a way to get you home."
"We can't."
"What?? why?"
"We have to find our dad, and tell him to come to our mom's funeral."
aku membisu. aku hanya bisa menatap wajah anak2 itu.
laki2 kecil itu memanggul tasnya.
seperti, cahaya2 merah kecil yg sangat terang.
kemudian, dia berjongkok.
lebih terang dari Bob.
gadis kecil itu memeluk leher sang laki2 kecil, tanpa melepas genggaman pada beruangnya. lalu, laki2 kecil itu berdiri, dan mulai melangkah.
aku menghela nafas.
"Hey!" panggilku.
+++++
aku mendorong rolling door itu.
"welcome back sir." sapa Bob.
"hey." aku menghampiri mejanya. "do you think you can do me a favor?"
"of couse sir, anything at all."
"bisakah pantimu menampung dua orang lagi?"
Bob mengernyitkan dahinya. kemudian, dia tersenyum. "of course, sir. there's always room for them."
"good." aku meraih kantong jaketku dan memberikan sebuah kertas kecil. "ini alamat tempat mereka menginap sekarang. give me a call when you've got them." aku tersenyum.
"yes, sir, i will."
aku pun melangkah ke arah elevator.
rasanya, bahuku bisa sedikit lebih naik sekarang.
kedua tanganku masuk ke dalam kantong jaket.
langkahku pun terasa lebih ringan.
aku menekan tombol teratas.
tiba2, "oh, and Bob?"
"yes sir?"
"Lupakan saranku tadi."
"I already have, sir."
aku tersenyum, dan masuk ke dalam elevator.
Niatku batal.
dan sekarang, aku tau, harus kuapakan warisan itu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment