12/12/2011

SHORTIE | NEEDS REVISE


LAST DAYS AS A FELIS (FIXED TITLE, FIRST DRAFT, DECEMBER 3RD 11.50 PM)

“Yg kau pedulikan hanya kucing sialan itu!”
kalimat itu cukup menyakitkan. walaupun dia memelukku saat dia tidur di malam hari ataupun memberiku 3 mangkuk susu, aku tak akan pernah bisa mengeluarkan kalimat itu dari kepalaku.
pria itu sudah pergi dari apartemen ini selama seminggu. selama itu pula, tempat ini tenang. tak ada orang - orang yg berteriak tak jelas. tak ada lagi pesta yg menulikan telingaku. tak ada lagi aroma alkhohol tercium dari dapur. apartemen ini juga terlihat lebih bersih.
tapi, itulah masalahnya. tempat ini terlalu tenang. sepi. satu – satunya keramaian adalah tangisnya setiap malam. kadang, buluku sampai basah kalau dia sedang memelukku sementara matanya terpejam. aku tak mungkin bisa tidur dengan isakannya tepat di samping telingaku!
sementara itu, di siang hari, setiap kali dia pulang, dia akan membuka sepatunya, menjatuhkan tasnya dan duduk di kursi yg sama di dekat jendela yg sama, menunggu beberapa jam sebelum kemudian pergi lagi. dan yg bisa kulakukan hanya berjalan ke arahnya, menggesek – gesekkan sisi kepalaku dan sesekali mengeong di kakinya. biasanya, dia akan langsung mengangkatku dan mencium kepalaku sambil memberi sebuah pelukan hangat. tapi hanya sekali seingatku, ketika dia hanya akan melihat ke arahku, kemudian kembali menatap jauh ke luar jendela dan menghela nafas.

“Leo?” suaranya memanggilku dari arah kamar tidur. tapi mataku tetap fokus pada cicak yg ada di atas atap itu. aku menatap tajam dan menggeram ke arah cicak itu. aku berencana untuk menunjukkan betina tetangga lantai atas kenyamanan keranjangku, dan cicak itu tak bisa membuatnya berantakan.
tiba2, dua buah tangan mengangkatku, dan membawaku ke pelukan pemilik tangan itu.
“Kamu ngapain di sini aja, Leo? Mama panggil2 kok gak nyahut.” bibir itu mencium kepalaku, tapi aku tetap menatap cicak itu. sialnya, dia membawa temannya sekarang.
“SSS!!” senjata mutakhirku tetap saja tidak bisa membuat cicak - cicak itu pergi.
“Ow, karena mereka ya? mereka kan gak ganggu kamu, Leo.” kemudian, dia menurunkanku, dan melambai – lambaikan tangannya ke arah cicak itu. akhirnya, cicak – cicak itu masuk ke dalam lubang di dinding.
aku pun berbalik dan kembali ke urusanku yg terputus; menjilati mangkuk yg berisi susu. dia pun mengelus – elus leherku, membuatku menutup mata dan mengikuti arah tangannya pergi. kemudian dia mengangkatku dan menatapku dengan mata coklatnya yg besar dan terlindungi kacamata pinknya itu.
“Mama kuliah dulu ya, Leo. mama nanti pulangnya agak lama, mau nyari susu lagi buat kamu. jaga apartemen kami ya, Leo.” dia mencium kepalaku dan mengusap kedua matanya, sebelum akhirnya mengunci pintu itu dari luar. sesaat tadi, kuperhatikan pipinya sedikit cekung. daerah di sekitar matanya merah. ada juga bekas aliran air mengering di kedua pipinya.
setelah menunggu beberapa menit, aku berjalan ke arah kamar tidur mereka yg sedikit terbuka. kuterobos celah itu dengan tubuhku, dan masuk ke satu – satunya ruangan yg aku janji tidak akan kusentuh dengan sengaja selama aku di apartemen ini.
dan sekali lagi, aku beruntung. laci terbawah tempat surat itu tersimpan juga sedikit terbuka. kutaruh kedua kaki depanku di laci itu, dan memperbesar celah itu dengan hidungku. setelah cukup besar, kutarik laci itu dengan kedua kaki depanku. setelah memastikan gigitanku tidak akan merusak amplop dan isinya, aku keluar dan melompat ke jendelanya yg selalu terbuka.

Paws.png Paws.png Paws.png Paws.png Paws.png

Hari ini tepat hari kedua aku mencari rumahnya, yg sebenarnya hanya berjarak hampir 1 kilo. tapi karena beberapa tikus dan bau2 ikan di kaleng2 perak, aku off schedule selama total lebih dari 5 jam. ironisnya, penciuman tajamku yg terkutuk ini adalah berkah yg sangat kubutuhkan untuk saat seperti ini. aku hanya punya 1 hari lagi, atau selesai sudah.

“ketika kau menemukan sebuah ikan, kemudian kau juga menemukan seorang betina yg sangat kurus dan hampir mati kelaparan, relakanlah ikan itu, dan berikan kepadanya. setelah itu, berbaliklah dan terus berjalan tanpa melihat ke belakang.”

aku lupa siapa yg mengatakan itu. tapi yg pasti orang itu mengatakannya sekitar 3 bulan yg lalu, saat semuanya normal. andai orang itu juga kucing, pasti dia akan kujadikan betinaku.
aku terus menyusuri jalan beraspal ini, kadang menengok ke kiri dan ke kanan. malam ini malam minggu, dan lalu lintas di bawah sana sangat ramai. aku yakin saat ini dia sedang melihat melihat keluar jendelanya, matanya mengikuti setiap senyum dan tawa di pasangan muda - mudi yg lewat di bawah.
“Heniii!! Henii!!” telinga kananku berbalik mengikuti arah suara teriakan itu. aku pun menengok ke arah rumah di belakangku, dan benar saja; dari jendela rumah berteralis itu, seorang laki2 yg selama ini kucari. dia saat itu sedang menulis sesuatu di mejanya. terlihat sangat serius. dan sepertinya si ‘Heni’ yg dia panggil ini tidak kunjung datang. aku pun berjalan pelan ke arah pagar putih itu, yg membatasi halaman rumahnya dengan aspal tempatku berdiri.
“meow.” ini adalah yg ke 20an kali sejak 5 menit yg lalu. aku harap terdengar, walaupun mulutku sedang menggigit surat ini.
“awh!” suara seorang wanita dari arah samping membuat telingaku kembali menengok. tiba2, aku sudah mendapati tubuhku melayang, dan surat itu terjatuh ke bawah. “what're you doing here all alone you poor kitty?” matanya menatapku dengan ceria, sementara mulutnya dimonyong2kan, sesuai dengan nada imut yg dia keluarkan. aku pun meronta - ronta di pelukannya. “let mommy take you inside hm?” aku kini digendong di bahunya, sementara tangannya menggaruk2 bahuku.
tidak! suratnyaa!
“Heniii!! Kamu kemana sih--“ dia berhenti berteriak ketika sampai di ambang pintu kamarnya. telingaku pun menengok, diikuti kepalaku. dahinya mengkerut dan tatapan matanya saat menatapku seakan melihat kecoa dan harus segera diinjak sampai mati. “darimana kamu dapat kucing itu?” nadanya serius.
“aku nemu dia di luar tadi. and finders keepers!” aku kembali meronta, kedua kaki depanku menggapai - gapai ke arah surat itu. “now who’s the good kitty? who’s the--“
“meow!!” teriakku padanya, sambil menggoreskan 3 buah garis merah rapi di tangannya.
“ow!!” dia pun seketika melepasku, dan aku langsung berlari ke luar.
untungnya, surat itu tidak apa2. aku segera mengamankannya di gigitanku, dan berada dalam posisi siap menyerang. mataku menaatap tajam ke arah wanita yg kucakar tadi. wajahnya merah, dan tatapannya menandingi ketajaman mataku.
tangannya hilang di balik pintu, dan keluar kembali dengan sebuah sapu di genggamannya. “kucing sialan!!” sapu itu menjulang ke langit, tapi aku tetap tidak merubah posisiku.
“Heni!!” pria itu merampas sapu dari tangannya. “kamu lupa sama ajaran mama papa??”
“gak lah kak, tapi kakak lihat sendiri kan apa yg dia lakuin??”
“selesaikan peermu, cepat!”
“tapi kan--!”
“CEPAT!” aku melemas dari posisi menyerangku ketika dia meneriakkan satu kata itu. entah kenapa hanya dia yg bisa membuatku seperti itu.
wanita itu masuk dengan isakan yg membuat telingaku bergerak - gerak. tiba - tiba, dia kembali menengok ke arahku. kerutan di dahi yg sama, hanya saja... ekspresi yg tidak kuketahui. “kenapa lagi - lagi harus kamu??” dia menghela nafas panjang, dan berjongkok sambil mengambil surat dari gigitanku.
selama dia membacanya, ekspresi mukanya berubah. mulai dari keheranan dan capek akan semuanya yg berhubungan denganku, sampai ke sadar akan sesuatu dan panik.
setelah selesai membaca itu, dia pun menggenggam surat itu dan berlari pergi. ke jalur yg telah kutelusuri selama 3 hari. ke arah yg memang kuinginkan dia untuk pergi.
aku pun mengejarnya, tak peduli walaupun dia sudah jauh sekali sekarang. tapi, setelah beberapa meter, lariku melambat, dan akhirnya benar - benar berhenti. kutundukkan kepalaku dan mencoba tersenyum.

Paws.png Paws.png Paws.png Paws.png Paws.png

sepanjang malam, sampai pagi menjelang dan bertemu dengan malam kembali, aku hanya bisa meringkuk. aku merenung, menatap ke arah lalin di bawah dengan sedikit sekali rasa focus. semuanya mulai kembali.
115 hari yg lalu, aku terbangun di depan sebuah rumah. rumahnya. pria itu yg pertama menemukanku, dan kemudian menghadiahkanku ke wanita itu, yg saat itu kupikir sebagai sebuah suapan agar wanita itu mau memaafkan sang pria.
setelah kematianku, Tuhan hanya menjanjikanku selama 115 hari, untuk bisa turun ke bumi dan menjaganya. dan itulah yg selama ini kulakukan. Dia juga berkata, akan datang saatku untuk membantunya, dan merelakan ikan yg kutemukan untuk diberikan ke betinanya yg hampir mati kelaparan.
Aku tak ingat nama wanita itu. tapi yg pasti, aku dulunya sering membuatnya tertawa, ketika dia dibuat sedih oleh pria itu. sayangnya, Tuhan berkata lain. aku harus pergi meninggalkannya ketika kami baru seminggu kenal.
surat itu kuketik sendiri, seminggu sebelum waktuku habis. di dalamnya, kuungkapkan semuanya.

bagaimana setiap hari wanita itu menatap kosong keluar jendela. menunggu sang pria untuk menyebrang jalan itu dan berjalan ke arah apartemennya, supaya dia bisa turun ke bawah dan mereka bisa berpelukan mesra di tangga.
bagaimana wanita itu hanya akan menangis di malam hari, sampai dia akhirnya dia tertidur, dan ketika dia telah menutup matanya, dia membisikkan namanya sambil air matanya kembali keluar.
bagaimana dia hanya akan duduk di meja makan itu, menyendok 3 atau 4 kali makanan di depannya, kemudian dia akan menatap kursi kosong di depannya, yg juga terdapat sebuah piring berisi makanan lengkap yg mulai dingin dan segelas air putih serta garpu di kiri dan sendok di kanan piring itu.
dan bagaimana semua itu akan terulang kembali, setiap hari, selama satu setengah bulan terakhir ini.

suara dentingan lonceng dari dalam sebuah rumah membuat telingaku sedikit bergerak2. mataku terasa berat. tubuhku terasa semakin lemas. aku pun semakin meringkuk untuk menyamankan diri. “hm.” aku tersenyum. sepertinya waktuku habis. yah, sekarang aku bisa tidur dengan tenang, mengetahui dia sudah aman di tangannya.
dentingan lonceng itu berhenti setelah 12 kali. sebuah ambulans lewat di bawah sana. “Leo...” bisikan seorang wanita membuat telingaku bergerak mengikuti suara ambulans itu, sebelum akhirnya, ia berhenti bergerak, dan mataku tertutup rapat.
 


No comments: