LAST DAYS AS A FELIS (FIXED
TITLE, FIRST DRAFT, DECEMBER 3RD 11.50 PM)
“Yg kau
pedulikan hanya kucing sialan itu!”
kalimat
itu cukup menyakitkan. walaupun dia memelukku saat dia tidur di malam hari
ataupun memberiku 3 mangkuk susu, aku tak akan pernah bisa mengeluarkan kalimat
itu dari kepalaku.
pria itu
sudah pergi dari apartemen ini selama seminggu. selama itu pula, tempat ini
tenang. tak ada orang - orang yg berteriak tak jelas. tak ada lagi pesta yg
menulikan telingaku. tak ada lagi aroma alkhohol tercium dari dapur. apartemen
ini juga terlihat lebih bersih.
tapi,
itulah masalahnya. tempat ini terlalu tenang. sepi. satu – satunya keramaian
adalah tangisnya setiap malam. kadang, buluku sampai basah kalau dia sedang
memelukku sementara matanya terpejam. aku tak mungkin bisa tidur dengan
isakannya tepat di samping telingaku!
sementara
itu, di siang hari, setiap kali dia pulang, dia akan membuka sepatunya, menjatuhkan
tasnya dan duduk di kursi yg sama di dekat jendela yg sama, menunggu beberapa
jam sebelum kemudian pergi lagi. dan yg bisa kulakukan hanya berjalan ke
arahnya, menggesek – gesekkan sisi kepalaku dan sesekali mengeong di kakinya.
biasanya, dia akan langsung mengangkatku dan mencium kepalaku sambil memberi
sebuah pelukan hangat. tapi hanya sekali seingatku, ketika dia hanya akan
melihat ke arahku, kemudian kembali menatap jauh ke luar jendela dan menghela
nafas.
“Leo?”
suaranya memanggilku dari arah kamar tidur. tapi mataku tetap fokus pada cicak
yg ada di atas atap itu. aku menatap tajam dan menggeram ke arah cicak itu. aku
berencana untuk menunjukkan betina tetangga lantai atas kenyamanan keranjangku,
dan cicak itu tak bisa membuatnya berantakan.
tiba2, dua
buah tangan mengangkatku, dan membawaku ke pelukan pemilik tangan itu.
“Kamu
ngapain di sini aja, Leo? Mama panggil2 kok gak nyahut.” bibir itu mencium
kepalaku, tapi aku tetap menatap cicak itu. sialnya, dia membawa temannya
sekarang.
“SSS!!” senjata
mutakhirku tetap saja tidak bisa membuat cicak - cicak itu pergi.
“Ow,
karena mereka ya? mereka kan gak ganggu kamu, Leo.” kemudian, dia menurunkanku,
dan melambai – lambaikan tangannya ke arah cicak itu. akhirnya, cicak – cicak
itu masuk ke dalam lubang di dinding.
aku pun
berbalik dan kembali ke urusanku yg terputus; menjilati mangkuk yg berisi susu.
dia pun mengelus – elus leherku, membuatku menutup mata dan mengikuti arah
tangannya pergi. kemudian dia mengangkatku dan menatapku dengan mata coklatnya
yg besar dan terlindungi kacamata pinknya itu.
“Mama
kuliah dulu ya, Leo. mama nanti pulangnya agak lama, mau nyari susu lagi buat
kamu. jaga apartemen kami ya, Leo.” dia mencium kepalaku dan mengusap kedua
matanya, sebelum akhirnya mengunci pintu itu dari luar. sesaat tadi,
kuperhatikan pipinya sedikit cekung. daerah di sekitar matanya merah. ada juga
bekas aliran air mengering di kedua pipinya.
setelah
menunggu beberapa menit, aku berjalan ke arah kamar tidur mereka yg sedikit
terbuka. kuterobos celah itu dengan tubuhku, dan masuk ke satu – satunya
ruangan yg aku janji tidak akan kusentuh dengan sengaja selama aku di apartemen
ini.
dan sekali
lagi, aku beruntung. laci terbawah tempat surat itu tersimpan juga sedikit
terbuka. kutaruh kedua kaki depanku di laci itu, dan memperbesar celah itu
dengan hidungku. setelah cukup besar, kutarik laci itu dengan kedua kaki
depanku. setelah memastikan gigitanku tidak akan merusak amplop dan isinya, aku
keluar dan melompat ke jendelanya yg selalu terbuka.
Hari ini
tepat hari kedua aku mencari rumahnya, yg sebenarnya hanya berjarak hampir 1
kilo. tapi karena beberapa tikus dan bau2 ikan di kaleng2 perak, aku off
schedule selama total lebih dari 5 jam. ironisnya, penciuman tajamku yg
terkutuk ini adalah berkah yg sangat kubutuhkan untuk saat seperti ini. aku
hanya punya 1 hari lagi, atau selesai sudah.
“ketika
kau menemukan sebuah ikan, kemudian kau juga menemukan seorang betina yg sangat
kurus dan hampir mati kelaparan, relakanlah ikan itu, dan berikan kepadanya.
setelah itu, berbaliklah dan terus berjalan tanpa melihat ke belakang.”
aku lupa
siapa yg mengatakan itu. tapi yg pasti orang itu mengatakannya sekitar 3 bulan
yg lalu, saat semuanya normal. andai orang itu juga kucing, pasti dia akan
kujadikan betinaku.
aku terus
menyusuri jalan beraspal ini, kadang menengok ke kiri dan ke kanan. malam ini
malam minggu, dan lalu lintas di bawah sana sangat ramai. aku yakin saat ini
dia sedang melihat melihat keluar jendelanya, matanya mengikuti setiap senyum
dan tawa di pasangan muda - mudi yg lewat di bawah.
“Heniii!!
Henii!!” telinga kananku berbalik mengikuti arah suara teriakan itu. aku pun
menengok ke arah rumah di belakangku, dan benar saja; dari jendela rumah
berteralis itu, seorang laki2 yg selama ini kucari. dia saat itu sedang menulis
sesuatu di mejanya. terlihat sangat serius. dan sepertinya si ‘Heni’ yg dia
panggil ini tidak kunjung datang. aku pun berjalan pelan ke arah pagar putih
itu, yg membatasi halaman rumahnya dengan aspal tempatku berdiri.
“meow.”
ini adalah yg ke 20an kali sejak 5 menit yg lalu. aku harap terdengar, walaupun
mulutku sedang menggigit surat ini.
“awh!”
suara seorang wanita dari arah samping membuat telingaku kembali menengok.
tiba2, aku sudah mendapati tubuhku melayang, dan surat itu terjatuh ke bawah.
“what're you doing here all alone you poor kitty?” matanya menatapku dengan
ceria, sementara mulutnya dimonyong2kan, sesuai dengan nada imut yg dia
keluarkan. aku pun meronta - ronta di pelukannya. “let mommy take you inside
hm?” aku kini digendong di bahunya, sementara tangannya menggaruk2 bahuku.
tidak!
suratnyaa!
“Heniii!!
Kamu kemana sih--“ dia berhenti berteriak ketika sampai di ambang pintu
kamarnya. telingaku pun menengok, diikuti kepalaku. dahinya mengkerut dan
tatapan matanya saat menatapku seakan melihat kecoa dan harus segera diinjak
sampai mati. “darimana kamu dapat kucing itu?” nadanya serius.
“aku nemu
dia di luar tadi. and finders keepers!” aku kembali meronta, kedua kaki depanku
menggapai - gapai ke arah surat itu. “now who’s the good kitty? who’s the--“
“meow!!”
teriakku padanya, sambil menggoreskan 3 buah garis merah rapi di tangannya.
“ow!!” dia
pun seketika melepasku, dan aku langsung berlari ke luar.
untungnya,
surat itu tidak apa2. aku segera mengamankannya di gigitanku, dan berada dalam
posisi siap menyerang. mataku menaatap tajam ke arah wanita yg kucakar tadi.
wajahnya merah, dan tatapannya menandingi ketajaman mataku.
tangannya
hilang di balik pintu, dan keluar kembali dengan sebuah sapu di genggamannya.
“kucing sialan!!” sapu itu menjulang ke langit, tapi aku tetap tidak merubah
posisiku.
“Heni!!”
pria itu merampas sapu dari tangannya. “kamu lupa sama ajaran mama papa??”
“gak lah
kak, tapi kakak lihat sendiri kan apa yg dia lakuin??”
“selesaikan
peermu, cepat!”
“tapi kan--!”
“CEPAT!”
aku melemas dari posisi menyerangku ketika dia meneriakkan satu kata itu. entah
kenapa hanya dia yg bisa membuatku seperti itu.
wanita itu
masuk dengan isakan yg membuat telingaku bergerak - gerak. tiba - tiba, dia
kembali menengok ke arahku. kerutan di dahi yg sama, hanya saja... ekspresi yg
tidak kuketahui. “kenapa lagi - lagi harus kamu??” dia menghela nafas panjang,
dan berjongkok sambil mengambil surat dari gigitanku.
selama dia
membacanya, ekspresi mukanya berubah. mulai dari keheranan dan capek akan
semuanya yg berhubungan denganku, sampai ke sadar akan sesuatu dan panik.
setelah
selesai membaca itu, dia pun menggenggam surat itu dan berlari pergi. ke jalur
yg telah kutelusuri selama 3 hari. ke arah yg memang kuinginkan dia untuk pergi.
aku pun
mengejarnya, tak peduli walaupun dia sudah jauh sekali sekarang. tapi, setelah
beberapa meter, lariku melambat, dan akhirnya benar - benar berhenti.
kutundukkan kepalaku dan mencoba tersenyum.
sepanjang
malam, sampai pagi menjelang dan bertemu dengan malam kembali, aku hanya bisa
meringkuk. aku merenung, menatap ke arah lalin di bawah dengan sedikit sekali
rasa focus. semuanya mulai kembali.
115 hari
yg lalu, aku terbangun di depan sebuah rumah. rumahnya. pria itu yg pertama
menemukanku, dan kemudian menghadiahkanku ke wanita itu, yg saat itu kupikir
sebagai sebuah suapan agar wanita itu mau memaafkan sang pria.
setelah
kematianku, Tuhan hanya menjanjikanku selama 115 hari, untuk bisa turun ke bumi
dan menjaganya. dan itulah yg selama ini kulakukan. Dia juga berkata, akan
datang saatku untuk membantunya, dan merelakan ikan yg kutemukan untuk
diberikan ke betinanya yg hampir mati kelaparan.
Aku tak
ingat nama wanita itu. tapi yg pasti, aku dulunya sering membuatnya tertawa,
ketika dia dibuat sedih oleh pria itu. sayangnya, Tuhan berkata lain. aku harus
pergi meninggalkannya ketika kami baru seminggu kenal.
surat itu
kuketik sendiri, seminggu sebelum waktuku habis. di dalamnya, kuungkapkan
semuanya.
bagaimana
setiap hari wanita itu menatap kosong keluar jendela. menunggu sang pria untuk
menyebrang jalan itu dan berjalan ke arah apartemennya, supaya dia bisa turun
ke bawah dan mereka bisa berpelukan mesra di tangga.
bagaimana
wanita itu hanya akan menangis di malam hari, sampai dia akhirnya dia tertidur,
dan ketika dia telah menutup matanya, dia membisikkan namanya sambil air
matanya kembali keluar.
bagaimana
dia hanya akan duduk di meja makan itu, menyendok 3 atau 4 kali makanan di
depannya, kemudian dia akan menatap kursi kosong di depannya, yg juga terdapat
sebuah piring berisi makanan lengkap yg mulai dingin dan segelas air putih
serta garpu di kiri dan sendok di kanan piring itu.
dan
bagaimana semua itu akan terulang kembali, setiap hari, selama satu setengah
bulan terakhir ini.
suara
dentingan lonceng dari dalam sebuah rumah membuat telingaku sedikit bergerak2.
mataku terasa berat. tubuhku terasa semakin lemas. aku pun semakin meringkuk
untuk menyamankan diri. “hm.” aku tersenyum. sepertinya waktuku habis. yah,
sekarang aku bisa tidur dengan tenang, mengetahui dia sudah aman di tangannya.
dentingan
lonceng itu berhenti setelah 12 kali. sebuah ambulans lewat di bawah sana.
“Leo...” bisikan seorang wanita membuat telingaku bergerak mengikuti suara ambulans
itu, sebelum akhirnya, ia berhenti bergerak, dan mataku tertutup rapat.
No comments:
Post a Comment