12/12/2011

SHORTIE | STILL NEEDS WORK ON ENDING


PACHELBEL CANON.
(FIXED TITLE. FIRST DRAFT. DECEMBER 6TH 2011.)

seorang cowok yg mengejar cewek cacat, tapi cewek cacat itu sadar akan dirinya yg hidup sendiri dan tak memiliki orang tua tidak cocok untuk masuk ke kehidupan si cowok yg sudah sempurna. cowok itu berubah, dari pianis yg sering mabuk2an dan egois menjadi pianis yg baik dan bersih. di awal cerita, cowok itu pergi ke rumah si cewek, menginginkan penjelasan mengapa cewek itu menjauh darinya, setengah jam sebelum penampilannya.
kemudian, di tengah penampilannya, dia berhenti, karena sadar bahwa cewek itu datang. dia pun mendekati cewek itu, dan mengatakan kepadanya bahwa dia menerima cewek itu apa adanya.
lagu yg ditampilkannya: Pachelbel Canon by George Winston

Aku masih bersandar di pintu rumahnya. di depan pintu rumah inilah 6 bulan yg lalu dia menamparku saat aku mabuk, menarikku secara tiba2 dari lubang yg selama ini semakin dalam. kutatap batu tapakan kedua di depan rumahnya, sementara pikiranku berjalan ke tempat lain. sesekali, kepala belakangku menghantam pelan pintu kamar itu.
“Noviaa...” suaraku bergetar. kutahan sekuat tenaga untuk tidak jebol, tapi akhirnya, kurasakan sebuah aliran air dari sudut mata kananku, turun melalui pipiku. kutunggu semenit.
5 menit.
10.
30.
kutatap jam tanganku. “setengah 6.” gumamku. aku pun berdiri, dan perlahan berbalik ke arah pintu itu. kujulurkan tanganku untuk merasakan pintunya. kemudian, kutarik nafas panjang, dan berbalik.
aku terus berjalan, mataku terus menatap mobil hitam di luar pagar rumahnya. kugenggamkan kedua tanganku, setiap kali niat itu muncul. niat untuk sekedar menengok ke belakang. niat untuk sekedar menghentikan langkahku untuk mengucapkan dua kata, walaupun mungkin dia tak akan pernah tau.
akhirnya, aku telah duduk di dalam mobil itu, menatap telapak tanganku sendiri yg mengunci satu sama lain. aku terus menunduk, dan menguatkan kuncian di telapak tangan itu.
“Bagaimana, mas? Apa kita langsung aja?”
akhirnya, aku menengok ke arah rumah itu. kupikir, tirai jendela di samping pintu itu bergoyang. kutarik nafas yg cukup dalam, dan berkata, “Langsung aja, pak.”

tone.png tone.png tone.png tone.png tone.png

banyak sekali yg datang saat itu. mama. bapak. nenek pun ada. mereka jauh2 dari Australi, datang untuk menyaksikan buah hati mereka. tapi, kursi di samping mamaku tetap kosong. seharusnya, dia sudah datang sebelum mereka. kulihat mamaku berbicara dengan ayahku, dan ayahku pun hanya mengangkat bahu. Mungkinkah mama menanyakan tentangnya?
“Good luck today, Al!! I know you’d win this. hands down, no doubt about it buddy!” Bob, teman sekamarku di asrama, menepuk bahuku sambil menunjukkan ibu jarinya.
“Thanks, bobbie.” kubalas dia seadanya, dan beranjak ke kamar ganti. kurasakan sepasang mata menatapku pergi, penuh kebingungan.
Kutatap mataku, menembus kacamatu sendiri, jauh melewati mata coklatku. tuksedo yg kupakai sangat pas. dasi kupu - kupunya pun tepat di tengah. leherku tidak terasa sesak, tapi susah bagiku untuk menarik nafas.
kemudian, aku seakan melihat bayangan Novia di cermin itu, menggantikan bayanganku. dia tersenyum. rambut hitamnya yg sedada menutupi cacat di mata kirinya. perlahan, dia menjulurkan tangannya. reflek, akupun begitu.
“Al?” tanganku terjulur, dan aku kebali menatap bayanganku sendiri.
“What is it, bob?”
“Are you okay?”
untuk sesaat, aku bingung harus menjawab apa. kuhela nafas pendek. “Yeah.”
“If you have something to tell, I’m right here, pal.” dia duduk di handrest sofa di kanan belakangku.
“I’m just...” suaraku lirih. “I don’t know why she acts like that, you know. it all happens so suddenly, that it takes me days to understand. we haven’t talked for almost a month now. aku sampai mengira dia udah...” terasa sangat berat untuk mengatakan satu kata itu.
“I’m sure she has her own reasons for doing that, bud.”
“But not even say hi for almost a month??” aku berbalik menatap bob, menuntut penjelasan yg dia tidak punya.
“why don’t you try calling her? tell her to come before your performance ends. say, 7.20. if she doesn’t show, then you have to move on.”
kutatap telapak tanganku, yg kembali mengunci satu sama lain.
sudah sebulan kami tidak bicara. setiap aku telpon, nomornya entah sibuk, tidak aktif atau tidak akan dijawab. setiap aku ke rumahnya, pagarnya terkunci. kalaupun tidak, pasti pintunnya yg akan terkunci. di kampus pun dia jarang terlihat. setiap kutanya teman2 sekelasnya, mereka pasti akan bilang, “Akhir2 ini dia gak masuk, kak. gak tau juga kenapa.”
“Al?” bob kembali memecah lamunanku. “Promise me you’d do that.”
aku berbalik perlahan ke arah kaca. kutatap kembali bayangan Novia yg muncul. kutarik nafas panjang, dan menjawab, “Okay.”
dua kali ketukan di pintu membuat kami berdua menengok ke arahnya. “Al, 5 menit lagi kamu tampil.” wanita itu tersenyum, dan menarik kepalanya dari celah pintu sebelum menutupnya.

+++++

“Hey V.”
“Yeah?”
“Kamu percaya cinta sejati gak?” dia terdiam untuk beberapa saat. kualihkan pandanganku dari horizon penuh titik cahaya di depan ke arah wajahnya. mata kami menatap satu sama lain.
aku suka cara rambutnya menutupi mata kiri itu. aku suka menatap dalam2 mata hitamnya.
tiba2, dia berpaling. “uum... dulunya iya sih.”
“dulunya?” sengaja kupakai nada menginterogasi.
sesaat dia terdiam.
“uum... dulu, sebelum aku dapat ini,” dia menunjuk mata kirinya, “aku pacaran sama seorang cowok. 3 tahun dia pianis juga lho.”
sepertinya horizon di depan menjadi lebih menarik sekarang. “pasti orangnya tampan.”
“yah... lebih tampan dari kakak.” saat itu juga dadaku terasa sesak. kemudian, dia tertawa kecil. “becanda kok.”
sialan. “terus?”
dia menarik nafas, dan perlahan mengeluarkannya. “waktu itu, aku bawa mobil sendiri. sehari sebelumnya, dia ngasih aku tiket untuk ke penampilannya.”
aku menengok lagi ke arahnya. “apa yg dia mainin?”
“kalo gak salah judulnya Pachelbel Canon, oleh George Winston. dia pernah mainin lagu itu buatku di taman belakang rumahnya, pas anniversary pertama kami.” dia sedikit tersenyum.
“tapi sayangnya, aku gak pernah sampai ke penampilannya. pas aku bangun, aku sudah tertidur di bangsal sebuah rumah sakit. dan sejak itulah, aku dapat ini.” kembali jari telunjuknya menunjuk mata kiri itu.
“dianya?”
“dia gak pernah datang. setiap hari aku duduk di depan rumah sakit itu, dan kursi roda adalah temanku satu2nya. pas sebuah mobil jazz hitam datang, aku sempat tersenyum. tapi akhirnya, senyum itu hilang. dan terus hilang sejak saat itu... sampai kakak datang.” aku menengok, dan sebuah senyum tersungging, baik di mata maupun bibirnya.
aku ikut tersenyum. perk=lahan, aku menjulurkan tanganku ke arah rambut yg menutupi mata kirinya.
tiba2, “jangan, kak.” tangannya menggenggam hangat tanganku. “belum waktunya.”

+++++

Perlahan - lahan, tirai panggung naik. aku tetap menatap tuts piano putih di depanku.
“The next performance is George Winston’s Pahelbel Canon, by Al of University of Indonesia.” tepukan tangan mereka terdengar sama bagi telingaku. kemudian, hening. kuusap mataku, menarik nafas dan mulai memainkan lagunya.

aku tak pernah mengatakan perasaanku padanya.
aku yakin, dia sudah tau. begitu pula sebaliknya.
dan sejak itulah, semuanya berubah.

kami semakin jarang mendaki bersama.
dia tidak pernah lagi datang ke rumahku untuk mengajariku bermain piano.
tidak ada lagi orang yg bisa mengkritik pedas cerita2ku.

pernah suatu hari, aku kembali ke diskotik biasa tempatku mabuk dulu. tapi saat di dalam diskotik itu, aku sudah tidak nyaman dengan lagu clubnya.
aku pun memesan gin-and-tonics. tapi hanya setelah satu tegukan, aku muntah tepat di depan bar itu.
3 hari kemudian, aku jatuh sakit. dan selama seminggu berikutnya, jari2ku tidak pernah menyentuh tuts piano lagi.

tapi, harus kuakui kenyataan pahit, bahwa kalau bukan karenanya, aku tidak akan duduk di depan piano putih ini. memakai tuksedo dan dasi kupu - kupu seperti ini. dialah yg membantuku menemukan jati diriku, dan sekarang...

jariku berhenti menari di atas tuts2 piano itu, ketika gema pintu aula ditutup mencapai telingaku. perlahan, aku menengok ke arah pintu itu. di sana, berdiri seorang perempuan kecil. jemper pinknya terlihat kedodoran walaupun dari jarak yg jauh ini. aku pun berdiri, dan berjalan ke arah bangku penonton.
penampilannya semakin jelas, ketika aku meniki tangga di antara bangku penonton. jeans hitamnya kontras sekali dengan jaketnya; terlihat ketat, tapi sangat pas. rambutnya sedikit memanjang, sedikit lebih berantakan dan masih menutupi mata kiri itu.
akhirnya, kami sudah berhadapan. dia menunduk. aku pun menunduk, memandang kepalanya yg tetutup tudungnya.
“kenapa, V? kenapa--“
“maafin aku, kak.”  suaranya bergetar. lirih. “aku Cuma gak mau, ngerusak hidup kakak yg udah sempurna. kakak punya masa depan yg bagus, orang tua kakak sayang sama kakak dan masih bisa meluk kakak, teman2 kakak pun semua berkelas. dan aku gak cocok untuk masuk ke itu semua. aku Cuma akan ngerusak itu semua.”
perlahan, aku mendekat kepadanya. kemudian, kupeluk dia dengan erat. kepalanya terbenam di dadaku. kuusap2 belakang kepalanya.
“siapa bilang kamu mrusak hidupku, V? Malah, kamu udah megang tanganku,” kulepas pelukanku, “menarikku dari hutan yg gelap itu,” kuambil dagunya dan kutengadahkan wajahnya, “menuntunku ke jalan yg lurus itu,” dan kutatap mata kirinya yg putih itu. “dan kamu adalah bagian yg selama ini hilang, V.”
akhirnya, kucium jidatnya. “makasih ya, Novia.”

No comments: