“Kalo dari saya, hanya itu
pilihan yg dia punya…”
Suara siapa itu?
“Apa memang bener2 gak ada cara
lain, dok? Please, berapapun harganya, akan saya bayar…”
Yuli? ‘Dok’?
“Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan
oleh uang, nak Lia. Tergantung dia saja sekarang…”
Kucoba membuka mataku sebisa
mungkin. Cahaya terang di atas sana membutakanku. Kucoba mengangkat kedua
tanganku. Tapi yg menutupi sinar itu hanya tangan kananku. Apa…
“Hai, Ben.” Suara yg familiar
menyapaku dari seberang ruangan.
Di dekat pintu itu, seorang
wanita berdiri. Bersandar ke dinding dengan kedua tangannya di belakangnya.
Kusipitkan mataku. Kenapa harus dia?
“Sejak kapan kamu di situ?”
“Lumayan lama. Gimana
perasaanmu?”
“Konyol.” Kujawab dia sekenanya.
Kututup mataku kembali. Kemudian, kuangkat kedua tanganku untuk memijit
kepalaku. Anehnya, hanya tangan kanan yg melakukan itu. Tak tahan, ku tolehkan
kepalaku ke arah kiriku.
Tangan kiriku diperban. Tebal
sekali. Tapi perban itu hanya sampai di sikuku. Benda yang menempel ke bahu
kiriku ini bergerak2, ketika otakku dengan spesifik menyuruh untuk menggerakkan
telapak tangan kiriku ke atas dan ke bawah. Di ujungnya terdapat bercak merah,
yang sepertinya menutupi seluruh sikuku. Selebihnya…
“Mereka sudah melakukan yang
terbaik, Ben.” Suaranya merendah di akhir.
“Apa… Bagaimana bisa…” aku
terduduk di atas tempat tidur itu. Tangan kananku bergerak untuk memegang…
apapun benda itu. “ARGH!!” jutaan sinyal rasa sakit yang luar biasa menjalar
menuju otakku. Hanya beberapa milisekon, tapi cukup untuk membuatku terbaring
kembali ke tempat tidur.
Kututup mataku. Kuletakkan
lenganku di atas keduanya. Sekuat tenaga, kucoba untuk bertahan, mencegah
bendungan jauh di dalam diriku untuk tidak jebol, dan menghamburkan isinya ke
dunia luar. Kurasakan mataku lembab. Setitik air mengalir turun dari sudut
mataku. Bendungan itu bolong sedikit…
Sebuah tangan memijit pelan bahu
kananku. Hangat sekali. Sepertinya lubang
di bendunganku sedikit tertambal.
“Bagaimana kejadiannya?” hanya
suara yang kukeluarkan. Aku sedang tak inngin bergerak untuk saat ini.
“Waktu itu sekitar sebelum
dzuhur. Mereka bilang kamu saat itu sedang sendirian. Tiba2 saja, Apartemen itu
berubah dari gedung berlantai 5 jadi tumpukan batu, tanah dan perabotan yang
tingginya tak lebih dari 3 meter.” Suaranya terhenti. Sebuah helaan napas
mencapai telingaku.
“Terus…” kataku datar.
“Kamu terjebak selama 2 hari. Pas
mereka menarik kamu keluar…”
Sepertinya aku bisa menebak
lanjutan dari kata2 itu.
“Tapi kenapa? Kenapa aku tak bisa
mengingat apapun ketika aku melakukannya??”
“Mereka bilang itu karena trauma.
Menurutku itu masuk akal sekali.”
“Tau apa kamu soal aku hah??!”
“Jadi, yang 2 tahun dulu itu sama
sekali gak berarti apa – apa buatmu?” aku tak suka nadanya. Aku pun tak
menjawab, dan hanya memalingkan kepalaaku ke kiri, tanpa mengangkat tanganku
dari mataku.
Suara klakson yang berbunyi dua
kali di dunia luar sana memecah keheningan di antara kami.
“Ben, aku…”
“Jangan repot2.” Lagi2, helaan
napas. Kali ini sedikit lebih panjang.
“Bye.” Apa dia tidak mengerti arti “Jangan repot2”ku tadi?!
Pintu menutup pelan. Itulah suara
terakhir yang menggema di ruanganku. Banyak hal sedang berlalu lalang di
highway pikiranku sekarang. Billboard2 berjalan dengan berbagai ukuran yang
sebagian besar berisikan hal2 tak pantas dan melanggar moral.
“Akhirilah.”
“Tak ada lagi benda yang indah menanti di ujung jalan.”
“Lompatlah ke jurang di sisi jalanmu sekarang.”
“Apa selanjutnya?”
Kemudian, sebuah billboard
berwarna putih muncul diantara billboard2 lain yang berwarna hitam. Dia
berhenti tepat di depan kamrea pikiranku. Ukuran billboardnya semakin membesar,
seperti juga setiap detik yang mulai lewat. Isinya sangat tak lazim.
“CARILAH!”
No comments:
Post a Comment