11/03/2011

The Left Hand | Chapter 1


“Kalo dari saya, hanya itu pilihan yg dia punya…”

Suara siapa itu?

“Apa memang bener2 gak ada cara lain, dok? Please, berapapun harganya, akan saya bayar…”

Yuli? ‘Dok’?

“Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan oleh uang, nak Lia. Tergantung dia saja sekarang…”

Kucoba membuka mataku sebisa mungkin. Cahaya terang di atas sana membutakanku. Kucoba mengangkat kedua tanganku. Tapi yg menutupi sinar itu hanya tangan kananku. Apa…

“Hai, Ben.” Suara yg familiar menyapaku dari seberang ruangan.

Di dekat pintu itu, seorang wanita berdiri. Bersandar ke dinding dengan kedua tangannya di belakangnya. Kusipitkan mataku. Kenapa harus dia? “Sejak kapan kamu di situ?”

“Lumayan lama. Gimana perasaanmu?”

“Konyol.” Kujawab dia sekenanya. Kututup mataku kembali. Kemudian, kuangkat kedua tanganku untuk memijit kepalaku. Anehnya, hanya tangan kanan yg melakukan itu. Tak tahan, ku tolehkan kepalaku ke arah kiriku.

Tangan kiriku diperban. Tebal sekali. Tapi perban itu hanya sampai di sikuku. Benda yang menempel ke bahu kiriku ini bergerak2, ketika otakku dengan spesifik menyuruh untuk menggerakkan telapak tangan kiriku ke atas dan ke bawah. Di ujungnya terdapat bercak merah, yang sepertinya menutupi seluruh sikuku. Selebihnya…

“Mereka sudah melakukan yang terbaik, Ben.” Suaranya merendah di akhir.

“Apa… Bagaimana bisa…” aku terduduk di atas tempat tidur itu. Tangan kananku bergerak untuk memegang… apapun benda itu. “ARGH!!” jutaan sinyal rasa sakit yang luar biasa menjalar menuju otakku. Hanya beberapa milisekon, tapi cukup untuk membuatku terbaring kembali ke tempat tidur.

Kututup mataku. Kuletakkan lenganku di atas keduanya. Sekuat tenaga, kucoba untuk bertahan, mencegah bendungan jauh di dalam diriku untuk tidak jebol, dan menghamburkan isinya ke dunia luar. Kurasakan mataku lembab. Setitik air mengalir turun dari sudut mataku. Bendungan itu bolong sedikit…

Sebuah tangan memijit pelan bahu kananku. Hangat sekali. Sepertinya lubang di bendunganku sedikit tertambal.

“Bagaimana kejadiannya?” hanya suara yang kukeluarkan. Aku sedang tak inngin bergerak untuk saat ini.

“Waktu itu sekitar sebelum dzuhur. Mereka bilang kamu saat itu sedang sendirian. Tiba2 saja, Apartemen itu berubah dari gedung berlantai 5 jadi tumpukan batu, tanah dan perabotan yang tingginya tak lebih dari 3 meter.” Suaranya terhenti. Sebuah helaan napas mencapai telingaku.

“Terus…” kataku datar.

“Kamu terjebak selama 2 hari. Pas mereka menarik kamu keluar…”

Sepertinya aku bisa menebak lanjutan dari kata2 itu.

“Tapi kenapa? Kenapa aku tak bisa mengingat apapun ketika aku melakukannya??”

“Mereka bilang itu karena trauma. Menurutku itu masuk akal sekali.”

“Tau apa kamu soal aku hah??!”

“Jadi, yang 2 tahun dulu itu sama sekali gak berarti apa – apa buatmu?” aku tak suka nadanya. Aku pun tak menjawab, dan hanya memalingkan kepalaaku ke kiri, tanpa mengangkat tanganku dari mataku.
Suara klakson yang berbunyi dua kali di dunia luar sana memecah keheningan di antara kami.

“Ben, aku…”

“Jangan repot2.” Lagi2, helaan napas. Kali ini sedikit lebih panjang.

“Bye.” Apa dia tidak mengerti arti “Jangan repot2”ku tadi?!

Pintu menutup pelan. Itulah suara terakhir yang menggema di ruanganku. Banyak hal sedang berlalu lalang di highway pikiranku sekarang. Billboard2 berjalan dengan berbagai ukuran yang sebagian besar berisikan hal2 tak pantas dan melanggar moral.

“Akhirilah.”

“Tak ada lagi benda yang indah menanti di ujung jalan.”

“Lompatlah ke jurang di sisi jalanmu sekarang.”

“Apa selanjutnya?”

Kemudian, sebuah billboard berwarna putih muncul diantara billboard2 lain yang berwarna hitam. Dia berhenti tepat di depan kamrea pikiranku. Ukuran billboardnya semakin membesar, seperti juga setiap detik yang mulai lewat. Isinya sangat tak lazim.

“CARILAH!”

No comments: