11/03/2011

Before It Ends | Chapter 1


Belum ada seminggu aku sembuh dari luka mental karena kejadian dua hari yg lalu, dokter sudah memvonisku. "Waktumu tidak banyak, nak." kata2nya yg tak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Atau setidaknya, hanya untuk 2 bulan ke depan. Kecuali aku bisa mengingatnya lagi di alam sana. Ah, tidak mungkin. Yg pasti, aku hanya bisa pasrah, lebih mendekatkan diriku dengan sang pencipta, sebelum akhirnya aku bertemu denganNya.

Ah, itupun kuragukan. Aku sudah terlalu banyak berdosa. Kepada keluarga, sodara dan Mia. Terakhir aku berbicara dengannya, aku membicarakan tentang... Bahkan akupun tak bisa melanjutkan kata2ku itu. Yg pasti, kami berdua saat itu terus berbicara satu sama lain, dengan nada yg sama sekali tidak enak.

Mereka bilang penyesalan selalu datang terakhir. Well... Now i can't seem to find any reason to reject such opinion. Andai saja aku mengikuti kata hatiku... Meminta maaf duluan. Seperti yg biasa aku lakukan dulu. Entahlah. Saat itu, aku seperti gelap mata. Kegengsianku, dan pikiran logikaku, menghalangi sebuah kata 'maaf' untuk keluar dari mulutku. Rasanya ingin aku mengirim sms ke dia sekarang. Sebelum semuanya terlambat... Lagipula, apa susahnya mengirim sebuah sms, berisi permintaan maaf, sebelum periode waktu 2 bulan berlalu?

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menggapai hpku, yg sedang duduk manis diatas bantal, tepat disampingku yg sedang menatap langit2. Dan tanpa kusadari, aku telah menulis, "Mi, maafin aku ya, gara2 kemaren. Aku gak mau kita musuhan kayak gini. Kamu adl sahabatku satu2nya, dan aku cuman pengen kamu maafin aku... Sebelum waktuku tiba... :)" setelah yakin dgn isinya, aku menekan 'send', dan out it goes...

Untuk beberapa menit, tidak ada balasan. Aku terus menunggu, setiap 5 detik, aku memeriksa hpku. Tiba2, dadaku... Terasa sakit sekali... Seperti pipa pejal yg ujungnya tajam dan panas, ditusukkan ke dadaku... Sialan. Penyakit ini... Semakin menggerogoti diriku. Aku memegang dadaku, sedangkan tubuhku semakin menggulung. Kenapa harus dua bulan? Kenapa tidak besok? Atau sekarang? Tuhan kadang membuatku bingung, dengan rencana2nya... Andai saja... Ada seseorang disini... Menemaniku, melewati sakit ini. Tenang saja, ma... Aku dalam waktu dekat akan menyusulmu... Beberapa menit kemudian, sakit itu hilang, secepat dia muncul. Keringat mulai turun dari dahiku, dan suara nafasku yg pendek dan cepat bergema dikamarku.

Tiba2, hpku bergetar. Untuk sesaat, aku setengah tersenyum, dan memperkirakan kalau itu sms darinya. Tak salah lagi, batinku, ketika melihat ID dari pengirim sms itu; Mia. Penasaran, tanpa membuang waktu lagi aku membuka smsnya, dan setengah senyumku semakin lebar, membaca sms itu yg berisi, "Seharusnya aku yg minta maaf. Kebiasaanmu mulai lagi nih, minta maaf gaje2 gitu... Trus maksudmu apa tadi, 'waktuku telah tiba'? Gak usah deh ya, nakutin aku! Gak mempan! :p".

Ah, Mia. Sepertinya terlalu berat untukku... Memberitahumu tentang kondisiku sekarang... Entahlah. Dulu, aku memang sudah bertekad, untuk bisa mati, tanpa ada seorang pun yg tau. Aneh memang. Bahkan dia pun berkata begitu. Kalau tak salah ingat, dia bilang, "Alah! Mana bisa gitu, Al! Kalo seseorang mati tu mah, orang terdekatnya pasti tau! Gak mungkin enggak! Ada2 aja kamu..." kira2 begitulah kata2nya saat itu. Dan aku hanya bisa membalasnya, dengan senyuman...

Aku memutuskan utk membalas smsnya dgn cara itu juga, dgn hanya menulis, ";)" di layar sms itu, dan mengirimnya, tanpa menunda2 lagi. Aku pun beranjak dari tempat tidur, dan tidak mengharapkan balasan darinya lagi. Kalaupun ada, aku juga tidak akan membalasnya. Aku takut... Hubungannya dengan Toni bisa rusak... Hanya karena aku...

Sudah dalam 3 bulan terakhir ini, mereka jadian. Dan tentunya, orang pertama yg Mia datangi adalah aku. Dia saat itu terlihat sangat senang sekali. Dengan wajah penuh senyum dan berbunga2, dia bilang, "Toni nembak aku!!!".

Tapi... Anehnya... Saat itu, dadaku seperti akan sesak... Aku mencoba untuk menarik nafas, dan mengucapkan selamat kepadanya. Entahlah. Saat itu, seperti ada sesuatu yg mengganjal... Rasanya... Aku gak rela. Ah. Mungkin, itu hanya sifat naturalku sebagai sahabatnya... Atau... Begitukah? Atau mungkin... Aku memang ada rasa sama dia...? After all, kita sudah kenal sejak kecil... 'Ah! Tidak mungkin! Dia juga paling gak mau sama aku...' tanpa kusadari, kata2 itu keluar begitu saja... Aku pun menepis semua pemikiran yg berhubungan dengan hal2 itu, dan menyelesaikan mandiku secepat mungkin.

Tiba2, aku mendengar hpku berbunyi. Dan dari ringtonenya menandakan bahwa ada seseorang yang menelponku. aku bergegas menuju kamarku, sambil mengira2 siapa itu. 'Tumben banget, ada yang nelpon.' batinku berkata. Memang, dari dulu, jarang sekali ada yang menelponku. Kalupun ada, orang2 itu pasti bertanya tentap PR atau tugas.

"Mia, Besties" kata tulisan di atas kata 'calling' di layar hpku.

No comments: