Belum ada seminggu aku sembuh dari luka
mental karena kejadian dua hari yg lalu, dokter sudah memvonisku. "Waktumu
tidak banyak, nak." kata2nya yg tak akan pernah kulupakan seumur hidupku.
Atau setidaknya, hanya untuk 2 bulan ke depan. Kecuali aku bisa mengingatnya
lagi di alam sana. Ah, tidak mungkin. Yg pasti, aku hanya bisa pasrah, lebih
mendekatkan diriku dengan sang pencipta, sebelum akhirnya aku bertemu
denganNya.
Ah, itupun kuragukan. Aku sudah terlalu
banyak berdosa. Kepada keluarga, sodara dan Mia. Terakhir aku berbicara
dengannya, aku membicarakan tentang... Bahkan akupun tak bisa melanjutkan
kata2ku itu. Yg pasti, kami berdua saat itu terus berbicara satu sama lain,
dengan nada yg sama sekali tidak enak.
Mereka bilang penyesalan selalu datang
terakhir. Well... Now i can't seem to find any reason to reject such opinion.
Andai saja aku mengikuti kata hatiku... Meminta maaf duluan. Seperti yg biasa
aku lakukan dulu. Entahlah. Saat itu, aku seperti gelap mata. Kegengsianku, dan
pikiran logikaku, menghalangi sebuah kata 'maaf' untuk keluar dari mulutku.
Rasanya ingin aku mengirim sms ke dia sekarang. Sebelum semuanya terlambat...
Lagipula, apa susahnya mengirim sebuah sms, berisi permintaan maaf, sebelum
periode waktu 2 bulan berlalu?
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk
menggapai hpku, yg sedang duduk manis diatas bantal, tepat disampingku yg
sedang menatap langit2. Dan tanpa kusadari, aku telah menulis, "Mi, maafin
aku ya, gara2 kemaren. Aku gak mau kita musuhan kayak gini. Kamu adl sahabatku
satu2nya, dan aku cuman pengen kamu maafin aku... Sebelum waktuku tiba...
:)" setelah yakin dgn isinya, aku menekan 'send', dan out it goes...
Untuk beberapa menit, tidak ada
balasan. Aku terus menunggu, setiap 5 detik, aku memeriksa hpku. Tiba2,
dadaku... Terasa sakit sekali... Seperti pipa pejal yg ujungnya tajam dan
panas, ditusukkan ke dadaku... Sialan. Penyakit ini... Semakin menggerogoti
diriku. Aku memegang dadaku, sedangkan tubuhku semakin menggulung. Kenapa harus
dua bulan? Kenapa tidak besok? Atau sekarang? Tuhan kadang membuatku bingung,
dengan rencana2nya... Andai saja... Ada seseorang disini... Menemaniku,
melewati sakit ini. Tenang saja, ma... Aku dalam waktu dekat akan menyusulmu...
Beberapa menit kemudian, sakit itu hilang, secepat dia muncul. Keringat mulai
turun dari dahiku, dan suara nafasku yg pendek dan cepat bergema dikamarku.
Tiba2, hpku bergetar. Untuk sesaat, aku
setengah tersenyum, dan memperkirakan kalau itu sms darinya. Tak salah lagi,
batinku, ketika melihat ID dari pengirim sms itu; Mia. Penasaran, tanpa
membuang waktu lagi aku membuka smsnya, dan setengah senyumku semakin lebar,
membaca sms itu yg berisi, "Seharusnya aku yg minta maaf. Kebiasaanmu
mulai lagi nih, minta maaf gaje2 gitu... Trus maksudmu apa tadi, 'waktuku telah
tiba'? Gak usah deh ya, nakutin aku! Gak mempan! :p".
Ah, Mia. Sepertinya terlalu berat
untukku... Memberitahumu tentang kondisiku sekarang... Entahlah. Dulu, aku
memang sudah bertekad, untuk bisa mati, tanpa ada seorang pun yg tau. Aneh
memang. Bahkan dia pun berkata begitu. Kalau tak salah ingat, dia bilang,
"Alah! Mana bisa gitu, Al! Kalo seseorang mati tu mah, orang terdekatnya
pasti tau! Gak mungkin enggak! Ada2 aja kamu..." kira2 begitulah kata2nya
saat itu. Dan aku hanya bisa membalasnya, dengan senyuman...
Aku memutuskan utk membalas smsnya dgn
cara itu juga, dgn hanya menulis, ";)" di layar sms itu, dan
mengirimnya, tanpa menunda2 lagi. Aku pun beranjak dari tempat tidur, dan tidak
mengharapkan balasan darinya lagi. Kalaupun ada, aku juga tidak akan
membalasnya. Aku takut... Hubungannya dengan Toni bisa rusak... Hanya karena
aku...
Sudah dalam 3 bulan terakhir ini,
mereka jadian. Dan tentunya, orang pertama yg Mia datangi adalah aku. Dia saat
itu terlihat sangat senang sekali. Dengan wajah penuh senyum dan berbunga2, dia
bilang, "Toni nembak aku!!!".
Tapi... Anehnya... Saat itu, dadaku
seperti akan sesak... Aku mencoba untuk menarik nafas, dan mengucapkan selamat
kepadanya. Entahlah. Saat itu, seperti ada sesuatu yg mengganjal... Rasanya...
Aku gak rela. Ah. Mungkin, itu hanya sifat naturalku sebagai sahabatnya...
Atau... Begitukah? Atau mungkin... Aku memang ada rasa sama dia...? After all,
kita sudah kenal sejak kecil... 'Ah! Tidak mungkin! Dia juga paling gak mau
sama aku...' tanpa kusadari, kata2 itu keluar begitu saja... Aku pun menepis
semua pemikiran yg berhubungan dengan hal2 itu, dan menyelesaikan mandiku
secepat mungkin.
Tiba2, aku mendengar hpku berbunyi. Dan dari ringtonenya menandakan bahwa ada seseorang yang menelponku. aku bergegas menuju kamarku, sambil mengira2 siapa itu. 'Tumben banget, ada yang nelpon.' batinku berkata. Memang, dari dulu, jarang sekali ada yang menelponku. Kalupun ada, orang2 itu pasti bertanya tentap PR atau tugas.
"Mia, Besties" kata tulisan di atas kata 'calling' di layar hpku.
No comments:
Post a Comment