“Persepsi tergantung pada intelek. Intelek umum akan
memandang sesuatu secara general, 'melihat apa yg "mereka" juga
lihat'. Intelek 'khusus' akan memandang dari sudut2 tersembunyi, 'melihat yg
"mereka" bilang aneh'. Intelek rendah akan memandang 'dari atas,
dimana yg dipandangnya sangat jauh dibawah kakinya.'.”
Terinspirasi dari sebuah status teman di Facebook yang
menurut saya sangat pintar, saya pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama.
Dan akhirnya, I come up with the words above.
Saat aku mengetik kata2 itu di ruang update status Facebook,
aku tak terlalu memikirkannya. I mean, it just flow out. Mengalir seperti
sungai di Jakarta, dengan beberapa ‘sampah’ yang mengganggu. Segera setelah
kurasa aliran itu terhenti, aku pun tak berhenti untuk memeriksanya. 1 detik kemudian,
kuklik “share”. Hanya ketika 4 orang yang me-like status itu barulah aku
tertarik dengan isinya. 2 orang mungkin hanya kebetulan online, jadi dia hanya
me-like yang ada di timeline-nya. 1 orang merupakan liker setiaku. (kadang aku
sampe dibuat jengkel. In a good way, of course.).
Tapi satu oang ini. Seorang wanita seumurku. Teman SDku
dulu. Well, kita gak pernah teguran sih, baik itu pas SD maupun SMP. Saat dia
pindah ke Sulawesi pun aku hanya menegurnya beberapaa kali lewat Facebook.
Dialah yang membuatku tertarik. Bukan karena dia cantik
(tapi memang kuakui, dia cantik). Bukan juga karena dia eksentrik (‘aneh’ dalam
bahasa “mereka”.). Tapi karena dia me-like statusku. Dan satu fakta inilah yang
membuatku meneliti kembali apa yang sudah kutulis sebagai status itu.
“Persepsi yang tergantung
pada intelek.”
Memang, menurutku itu sangatlah benar. Contoh kasus
(meminjam kata2 dosen bahasaku yang menurutku cukup keren. q:), publikasi
lukisan telanjang seorang wanita.
apa yg pertama muncul di kepala kalian ketika melihat gambar diatas? jawab di bagian komentar ya. (:
Bagi persepsi umum, terutama bagi “mereka”,
pastinya akan langsung melihat dari sisi seksualitasnya, dimana sebagian besar
akan berkata porno, dan sebagian mungkin juga ada yang akan berlama2 di kamar
mandi.
Sedangkan bagi persepsi ‘khusus’, mereka akan mencoba untuk
melihat dari segala sisi. Komentarnya pun akan bermacam2, mulai dari “Betapa
sensualitas tubuh seorang wanita digambarkan dalam bentuk seni yang begitu
indah dan memukau.” Atau mungkin, “Tuhan maha besar. Betapa indahnya dia bisa
menciptakan sesuatu hanya dari segumpal tanah.”. Akan tetapi sebagian pun di
kepalanya yang muncul duluan adalah sisi seksualitas. Kaum adam tentunya
menempati peringkat lebih tinggi untuk ‘sebagian besar’ yang dimaksud.
Komentarnya mungkin seperti ini, “keindahannya… lekuk tubuhnya… semuanya,
sungguh sempurna.”. (mungkin sambil sesekali menyentuh dan ‘menyentuh’ lukisan
itu.)
Terakhir tentunya adalah persepsi rendah. “pemandang yg tak pernah tengadah”. Komentarnya
mungkin, “ah, kurang bagus!! Posenya kurang menantang!! Seni terbaik adalah
seni yang berani!” walaupun sebenarnya dalam melukis sebuah kotak yang artistik
pun dia bersusah payah. Matanya akan selalu mencari letak kesalahan lukisan
itu. Entah bingkainya. Entah teksturnya. Entah jenis alat lukis yang dipakai.
Selalu! Seperti kritikus yang dibayar 2 miliar ketika dia mengeluarkan kritikan
pedas dan kontroversial. Minus sopan santunnya tentunya. Kadang orang yang
paling berpengalaman jatuh ke dalam lubang persepsi ini. Yang lebih parah dalah
yang pemula. Mukanya pasti diibaratkan tembok yang terbuat dari berlian.
Wanita yang me-like statusku itu menurutku termasuk dalam
‘khusus, Karena aada beberapa alas an yang ingin kusimpan untuk diri sendiri.
Cobalah cari tahu siapa dia, dan putuskan sendiri, apakah kau setuju denganku
ataupun tidak. (:
Sebenarnya aku ingin mengaitkan ketiga persepsi diatas
dengan intelektualitas. Tapi rasanya akan menjadi terlalu panjang. Mungkin di
lain hari ya? (:
Itulah pendapatku tentang jenis2 persepsi. Berawal dari
sebuah status teman, dan akhirnya, menjadi yang kau baca sekarang.
Yang manakah kamu?

No comments:
Post a Comment