11/01/2011

Persepsi


“Persepsi tergantung pada intelek. Intelek umum akan memandang sesuatu secara general, 'melihat apa yg "mereka" juga lihat'. Intelek 'khusus' akan memandang dari sudut2 tersembunyi, 'melihat yg "mereka" bilang aneh'. Intelek rendah akan memandang 'dari atas, dimana yg dipandangnya sangat jauh dibawah kakinya.'.”

Terinspirasi dari sebuah status teman di Facebook yang menurut saya sangat pintar, saya pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Dan akhirnya, I come up with the words above.

Saat aku mengetik kata2 itu di ruang update status Facebook, aku tak terlalu memikirkannya. I mean, it just flow out. Mengalir seperti sungai di Jakarta, dengan beberapa ‘sampah’ yang mengganggu. Segera setelah kurasa aliran itu terhenti, aku pun tak berhenti untuk memeriksanya. 1 detik kemudian, kuklik “share”. Hanya ketika 4 orang yang me-like status itu barulah aku tertarik dengan isinya. 2 orang mungkin hanya kebetulan online, jadi dia hanya me-like yang ada di timeline-nya. 1 orang merupakan liker setiaku. (kadang aku sampe dibuat jengkel. In a good way, of course.).
Tapi satu oang ini. Seorang wanita seumurku. Teman SDku dulu. Well, kita gak pernah teguran sih, baik itu pas SD maupun SMP. Saat dia pindah ke Sulawesi pun aku hanya menegurnya beberapaa kali lewat Facebook.
Dialah yang membuatku tertarik. Bukan karena dia cantik (tapi memang kuakui, dia cantik). Bukan juga karena dia eksentrik (‘aneh’ dalam bahasa “mereka”.). Tapi karena dia me-like statusku. Dan satu fakta inilah yang membuatku meneliti kembali apa yang sudah kutulis sebagai status itu.
“Persepsi yang tergantung pada intelek.”

Memang, menurutku itu sangatlah benar. Contoh kasus (meminjam kata2 dosen bahasaku yang menurutku cukup keren. q:), publikasi lukisan telanjang seorang wanita.

apa yg pertama muncul di kepala kalian ketika melihat gambar diatas? jawab di bagian komentar ya. (:

Bagi persepsi umum, terutama bagi “mereka”, pastinya akan langsung melihat dari sisi seksualitasnya, dimana sebagian besar akan berkata porno, dan sebagian mungkin juga ada yang akan berlama2 di kamar mandi.

Sedangkan bagi persepsi ‘khusus’, mereka akan mencoba untuk melihat dari segala sisi. Komentarnya pun akan bermacam2, mulai dari “Betapa sensualitas tubuh seorang wanita digambarkan dalam bentuk seni yang begitu indah dan memukau.” Atau mungkin, “Tuhan maha besar. Betapa indahnya dia bisa menciptakan sesuatu hanya dari segumpal tanah.”. Akan tetapi sebagian pun di kepalanya yang muncul duluan adalah sisi seksualitas. Kaum adam tentunya menempati peringkat lebih tinggi untuk ‘sebagian besar’ yang dimaksud. Komentarnya mungkin seperti ini, “keindahannya… lekuk tubuhnya… semuanya, sungguh sempurna.”. (mungkin sambil sesekali menyentuh dan ‘menyentuh’ lukisan itu.)

Terakhir tentunya adalah persepsi rendah. “pemandang yg tak pernah tengadah”. Komentarnya mungkin, “ah, kurang bagus!! Posenya kurang menantang!! Seni terbaik adalah seni yang berani!” walaupun sebenarnya dalam melukis sebuah kotak yang artistik pun dia bersusah payah. Matanya akan selalu mencari letak kesalahan lukisan itu. Entah bingkainya. Entah teksturnya. Entah jenis alat lukis yang dipakai. Selalu! Seperti kritikus yang dibayar 2 miliar ketika dia mengeluarkan kritikan pedas dan kontroversial. Minus sopan santunnya tentunya. Kadang orang yang paling berpengalaman jatuh ke dalam lubang persepsi ini. Yang lebih parah dalah yang pemula. Mukanya pasti diibaratkan tembok yang terbuat dari berlian.
Wanita yang me-like statusku itu menurutku termasuk dalam ‘khusus, Karena aada beberapa alas an yang ingin kusimpan untuk diri sendiri. Cobalah cari tahu siapa dia, dan putuskan sendiri, apakah kau setuju denganku ataupun tidak. (:

Sebenarnya aku ingin mengaitkan ketiga persepsi diatas dengan intelektualitas. Tapi rasanya akan menjadi terlalu panjang. Mungkin di lain hari ya? (:

Itulah pendapatku tentang jenis2 persepsi. Berawal dari sebuah status teman, dan akhirnya, menjadi yang kau baca sekarang.

Yang manakah kamu?

No comments: