9.37pm. June 11th 2012. Monday.
Aku mengangkat tangan kananku. Jarum pendeknya menunjuk ke bagian kosong diantara angka sembilan dan sepuluh, sedangkan jarum panjangnya ke angka lima. Aku meleset 3 menit dari jadwal biasa, ungkapku dalam hati. Aku pun mempercepat langkah kakiku. Tanganku menggenggam tali tas selempang yang melintas di depan tubuhku. Seragam ini sudah kupakai dalam 5 tahun terakhir. Seragam yang tidak dipakai burung merpati jaman dulu yang bertugas mengantarkan kertas berisi harapan, ungkapan kekaguman, keinginan tersembunyi dan hal-hal lain, baik itu personal maupun profesional.
Sebutir keringat mengalir turun di sisi wajahku. Aku pun menghapusnya dengan salah satu lenganku. Kemudian, setelah berbelok di salah satu sudut lingkungan ini, kelegaan memenuhiku. Sambil tersenyum, aku membuka sedikit kantong kecil di bagian depan tas selempangku, dan mengeluarkan satu-satunya amplop penghuni kantong kecil itu. Aku memang sengaja menaruhnya di ‘sel isolasi’ selama 5 bulan terakhir ini, agar tidak repot lagi untuk menewajahnnya.
Mendekati rumahnya, aku berjalan lebih pelan. Kemudian, saat sudah sampai di depan pintunya, aku pun merapikan diri dan menghapus butiran keringat lain yang ada di wajah. Mengangkat salah satu tanganku yang mengepal, aku pun mengayunkannya ke arah pintu. Tiba-tiba, sebuah suara, seperti grendel dan kunci yang dibuka, di pintu di depanku membuatku mengurungkan niat itu. Pintu itu terbuka beberapa saat sebelum tanganku kembali ke samping tubuh.
“Halo, pak pos ganteng.” Sapaannya langsung membuat wajahku memanas.
Sebelum merah wajahku disadari oleh gadis ini, aku berkata, “Umm, yeah, halo juga, dik. Yah, seperti biasa, s-saya disini mau nganter surat yaang, yah,seperti biasa.” Aku tertawa rendah untuk menutupi kegugupanku yang meluap. Untuk lebih menutupinya lagi, aku pun membuka kantong besar tasku dan mencari surat itu.
“Mmm, pak pos?”
“Sebentar dik, suratnya ada disini, kok,” balasku cepat, tanpa mengalihkan pandangan dari satu tanganku yang mengobrak-abrik isi kantong besar tasku.
“Apa mungkin yang ditangan pak pos yang satunya itu, suratnya? Amplop pink kan, kayak biasa?”
Aku terhenti. Seketika, wajahku kembali memanas dan pikiranku kosong akan kata-kata yang ingin kuucapkan. Akhirnya, setelah beberapa tarikan nafas pendek, “Iya, ini, dik, suratnya. Maaf ya, tadi saya agak panik,” kataku sambil menyerahkan amplop pink di tanganku yang satunya.
“Iya, gak pa-pa, pak pos. Kayaknya salahku juga kok, gara-gara nyapanya yang tadi agak straightforward,” balasnya sambil menatapku tersenyum, sebelum akhirnya ia mengalihkan tatapan itu dan berkutat dengan isi dari amplop pink itu.
Beberapa saat kemudian, gadis itu tersenyum. Sebuah senyum juga hampir terukir di bibirku, sebelum akhirnya aku tersadar dan mencoba bersikap biasa. Lalu, gadis itu tertawa kecil. Kemudian seperti sadar, ia menutupi mulutnya yang tersenyum lebih lebar dan menelan tawanya.
Kemudian, tatapan matanya berubah.
Seperti tatapan seorang wanita feminin yang melihat seekor anjing kecil, yang sedang memberi wanita itu sebuah puppy face. Dan senyum gadis itu yang mengikuti tatapannya persis seperti senyum sang wanita feminin tadi setelah berkata “awww” pada si anjing kecil. Gadis itu pun membiarkan dirinya bersandar di pinggiran pintu dengan satu bahu.
Dan aku hanya laki-laki yang berdiri diam di dekat wanita feminin itu.
“Dan seperti biasa, tanpa nama ataupun alamat kembali, baik di surat maupun di amplopnya.” Senyumannya hilang. Lalu, gadis itu menghela nafas, sambil melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke amplop.
Untuk sesaat, hanya ada keheningan di ambang pintu itu. Sang gadis hanya tertunduk, menatap amplop itu. Akhirnya, “Baiklah kalau gitu, dik. Saya pergi dulu ya.” Aku memberikannya sebuah senyuman hangat, dan tanpa menunggu balasan, senyuman, ataupun tatapan perpisahannya padaku, aku berbalik dan mulai berjalan.
“Pak pos!” suara kaki yang sedang berlari kecil terdengar di belakangku.
Aku pun berbalik. “Ya?”
“Uum... aku boleh nanya?”
“Akan dengan senang hati saya jawab kalau bisa,” jawabku sambil tersenyum.
Dia pun juga tersenyum. “Kira-kira... yang ngirim surat-surat ini ke aku gimana orangnya?”
Aku terdiam. Senyumku hilang seketika. Aku pun menghindari tatapan matanya yang lurus menembus kacamataku, sambil mencoba merangkai jawaban. Akhirnya, dengan terpaksa, “Dia selalu ngirim suratnya ke kantor pos, dik, dan saya tidak pernah melihat dia secara langsung.” Ini adalah kebohongan pertamaku kepada seorang penerima surat setelah menekuni pekerjaan ini selama 10 tahun.
Dia pun terdiam. Tatapannya tidak lurus padaku lagi, melainkan ke arah sudut kanannya. Setelah beberapa saat tidak ada balasan darinya, aku pun berkata “Maaf ya, dik.”
Dia pun menatapku lagi. “Iya, gak papa, pak.” Dia tersenyum. “Semangat nyebar suratnya yaa, pak pos ganteng.” Setelah itu, dia berbalik, dan pintu itupun tertutup.
Sepertinya, sebagian kecil diriku hancur, tepat setelah aku berkata maaf tadi.
*****
Aku mengangkat tangan kananku. Kali ini, jarum pendeknya menunjuk ke angka sembilan, sedangkan jarum panjangnya ke angka sebelas. Sepertinya timingku tepat, saat keluar kantor tadi, mengingat dia yang mengharuskanku untuk datang ke rumahnya sebelum jam sembilan. Dan rumah itu sudah berada cukup dekat dalam jarak pandangku.
Kemudian, pintu rumah itu terbuka. Aku pun menyipitkan mata, dan ternyata, itu dia. Tatapanku bingung ketika melihat kotak di tangan kanannya itu. Dan aku pun semakin bingung ketika dia tiba-tiba menghampiri ketika melihatku berjalan ke arahnya.
Aku pun menangkap beberapa butiran keringat yang ada di wajahnya. Ini orang habis ngapain?, tanyaku tanpa sadar dalam hati. Setelah cukup dekat, aku bertanya “Kamu habis nga--"
“GAK ADA WAKTU BUAT NGOMONG, PAK!! Cepet, ini!” dia langsung menarik tanganku dan menaruh kotak dan amplop pink di atasnya. “Kasih ke dia cepet! Nanti dia keburu gak ada di rumah!”
“Hey hey! Tenang dulu! Kamu kenapa toh, kok jadi kayak orang kesurupan gini?”
“Dia hari ini ultah! Aku pengennya jadi yang pertama buat ngasih dia hadiah! Walaupun kayaknya aku bukan yang pertama ngucapin, tapi setidaknya aku pengen jadi yang pertama untuk ngasih dia hadiah! Tadi sih pas jam 8 aku ngestalk rumahnya belum ada yang datang, jadi--"
Aku langsung menarik tangannya. Sambil memegang amplop dan kotak di tangan kiri, dan tangannya di tangan kanan, aku berjalan cepat, tanpa mempedulikan laki-laki di belakangku ini yang berteriak-teriak tidak jelas, memintaku untuk berhenti dan menjelaskan apa maksud kelakuanku ini.
Kemudian, setelah berbelok di salah satu sudut lingkungan ini, kelegaan memenuhiku kembali. Aku pun mempercepat langkahku, sedangkan laki-laki yang kutarik ini mulai mencoba untuk menarik lepas tangannya dari genggaman tanganku.
Kemudian, sesampainya di depan pintu si gadis, aku mengetuknya dengan agak keras. Beberapa saat kemudian, gadis itu keluar. “Selamat pagi, pak--" kata-katanya terhenti, dan sambil mengernyitkan dahi, dia bertanya, “Lho?? Ada apa ini, kok pada keringatan?”
“Maaf ya, dik, saya mengganggu pagi-pagi begini.” Aku mengambil beberapa nafas. “Hhh, saya kesini, hh, mau mengantarkan paket, hhh, yang mungkin paket terakhir yang akan saya kirim ke sini.” Aku mengambil nafas panjang, kemudian menarik laki-laki di belakangku ke sampingku.
“Dina...,” kataku pada gadis itu, “Perkenalkan, ini Hendi, orang yang selama lima bulan ini selalu menggangu jam sarapan saya dengan surat-suratnya untukmu,” lanjutku kemudian untuk mencairkan suasana.
Dina pun tersenyum, dan sambil mengulurkan tangan, menatap Hendi dan berkata, “Dina.”
Untuk beberapa saat, tidak ada uluran tangan yang lain. Akhirnya, aku menendang kecil kaki Hendi.
“H-hendi,” katanya beberapa saat kemudian sembari mengulurkan tangannya.
Untuk beberapa saat, aku hanya menatap jabatan tangan mereka. Kemudian, “Fiuh. Akhirnya! Ya sudah, kalau begitu, saya tinggal dulu ya, soalnya masih banyak surat-surat yang harus saya antar.” Another lie.
“Iya, makasih ya, pak pos,” kata Dina, sambil tersenyum.
“Makasih yaa, pak pos,” kata Hendi setelahnya, dengan nada sarkastik yang membuat Dina tertawa.
Setelah memberikan senyum kepada mereka, ditambah sebuah tepukan di bahu Hendi, aku pun berjalan menjauhi mereka. Suara mereka berdua mulai berbicara dan tertawa terdengar olehku, sampai akhirnya suara pintu menutup mengakhiri itu.
Aku pun berhenti, dan setengah berbalik menatap pintu itu. Setelah itu, pandanganku tertuju pada Dina dan Hendi yang sedang duduk di balik jendela di dekat pintu. Aku menghela nafas panjang.
Tiba-tiba, Dina menangkap tatapanku, dan tanpa dapat dihindari, kami bertatap mata. Aku pun langsung berbalik, kembali berjalan dan mencoba untuk menanamkan kata-kata yang ada di otakku ke hati.
Kata-kata yang berbunyi,
Semoga dia bisa membahagiakanmu, Din.
No comments:
Post a Comment