5.02pm. June 18th,
2012. Monday.
Kepada
Umi yang tersayang,
Saya masih bingung, umi. Belum
ketemu tanggal yang pas. Doakan saja, supaya bisa cepat menemukannya.
Salam
sayang, Anakmu.
Kedua tanganku
menggenggam tali tas selempang yang melintas di bagian depan tubuhku. Mataku
menatap tanah di depan, tanpa peduli berapa genangan air kecil yang sudah
kulewati. ‘Ia’, yang menghantui pikiranku sejak sarapan tadi masih juga belum
menghilang.
BRUKK!!
Tiba-tiba, bahu kiriku
menabrak sebuah bahu lain. Aku langsung tersadar dari lamunanku.
“Maaf,” kata pemilik
bahu itu.
“Oh, iya, tidak pa-pa.”
Aku membalasnya dengan sebuah senyum. Lalu, sambil tetap menundukkan kepalanya,
dia berlalu dari depanku.
Mataku mengikutinya.
Sang pemilik bahu itu seorang wanita. Dia berjaket tipis hitam, dengan sebuah
rok panjang yang berwarna senada. Tangan kirinya menahan kain hitam tipis, yang
melingkar di kepalanya dan melindungi rambutnya, agar tidak jatuh dari bahu
kanannya. Sedangkan tangan kirinya menggenggam erat sebuah kertas.
Hitam.
Lagi-lagi ‘Ia’ kembali.
Aku pun menutup mata, dan setelah menarik nafas yang dalam, aku membusungkan
dada dan berjalan mantap ke alamat pertama.
*****
“Terima kasih ya, mas.”
“Iya, sama-sama, bu.”
Aku tersenyum pada penerima hampir terakhirku. Setelah surat ibu ini dan 42
surat lain yang telah mendahuluinya, tasku sekarang hanya dihuni oleh 1 surat.
Sambil berjalan keluar dari halaman rumah itu, aku membuka tasku dan
mengeluarkan 1 surat terakhir itu. Alamat yang tertera menunjukkan kalau alamat
ini hanya 5 rumah dari rumah ini.
Tiba-tiba, aku teringat
Hendi dan Dian. Surat ini yang mengingatkanku dengan mereka. Seperti juga
surat-surat Hendi, penerima tanpa nama ini selama 3 bulan terakhir sudah secara
reguler mendatangi kantor bersama suratnya. Aku tak pernah melihatnya. Tetapi
menurut temanku yang juga pernah mengirim sebuah surat balasan ke alamat ini,
penerima tanpa nama ini adalah seorang wanita. Sedangkan pengirim suratnya juga
adalah wanita, yang memiliki sebutan ‘Bunda’.
‘Bunda’...
Bagaimana
kabar beliau sekarang ya?
Aku menghela nafas.
Akhirnya, rumah pemilik
alamat yang kutuju terlihat di ujung jalan. Rumah kecil berwarna abu-abu.
Sepertinya rumah terakhir di jalan ini.
Rumah itu terlihat
sepi. Jendelanya tidak terbuka, di dalamnya pun tertutup gorden. Sebuah pohon
besar dengan ayunan berada di depan rumah itu, di sisi kirinya. Di halamannya,
tersebar daun-daun kering kecoklatan yang kontras dengan hijau rumput, yang
berkilau di bawah langit senja yang jingga ini. Aku pun menyebrang jalan menuju
rumah itu.
Aku memberi ketukan di
pintu tiga kali. Tidak terlalu keras, juga tidak terlalu pelan. Aku sudah
berencana, kalau misalnya penghuni rumah ini masih tidak ada setelah 3 paket
ketukan, aku hanya akan meninggalkan suratnya di depan pintu ini.
Aku memberikan paket
ketukanku yang kedua di pintu ini. Masih juga tidak ada suara kunci dibuka atau
diputar. Lalu, ketika aku ingin mengetuk kembali, ia terbuka. Hanya sedikit,
tapi cukup untuk sebelah mata dan setengah muka sang penghuni rumah untuk
terlihat olehku. Matanya yang merah dan agak bengkaklah yang menarik
perhatianku untuk pertama kali.
Dia hanya menatapku
dengan dahi berkerut. Kemudian, “Siapa?,” katanya datar. Ternyata, bukan cuma
udara sore ini yang dingin.
“Saya dari kantor pos,
mbak.”
Dia menatapku sebentar.
Lalu, pintu itu kembali tertutup. Aku terperanjat untuk sesaat. Setelah itu,
pintu terbuka lebih lebar, sehingga aku bisa melihat seluruh tubuhnya.
Kedua tangannya
bersilang di depan tubuhnya. Dia memakai jaket tipis hitam, seperti sweater. Di
dalamnya, sebuah t-shirt putih polos. Rambutnya tergerai tak beraturan di kedua
sisi bahunya. Rok yang dipakainya panjang, juga berwarna hitam. Sepertinya
wanita berumur 20an.
Alisku pun terangkat. Wanita ini kan...
“Ada perlu apa?,”
suaranya tidak sedatar tadi, tetapi tatapan matanya tajam.
“Saya mengantar surat
yang tujuan alamatnya ke rumah ini.”
Tatapan mataku
menangkap dahinya yang sedikit berkerut. “Bisa saya liat suratnya?”
Aku memberinya amplop
yang ada di tanganku. Dia menyambutnya, dan kemudian membalik amplop itu.
Saat melihat bagian
amplop itu, yang memiliki alamat dan tulisan ‘Bunda’, tatapannya memaku. Dia
pun tak bergerak. Hanya menatap bagian amplop itu, sambil sesekali ibu jarinya
bergerak-gerak. Lalu, setelah menarik nafas, dia merobek bagian atas amplop itu
dan mengeluarkan surat di dalamnya.
Batinku berkecamuk.
Sempat terlintas keinginan untuk permisi dan meninggalkannya dengan urusannya
sendiri, seperti yang biasa kulakukan dengan penerima lainnya. Akan tetapi,
sesuatu menyarankanku untuk tetap berdiri di situ.
Kemudian, sebutir air
mulai turun dari sudut mata kanannya. Air itu menelusuri pipinya, terus turun,
sampai akhirnya jatuh membasahi kertas surat itu. Mata kirinya pun juga
mengeluarkan setetes air mata, yang akhirnya juga jatuh ke surat itu. Akhirnya,
dia terisak.
Tubuhnya seperti
melemah. Tubuh itu mulai oleng ke depan. Refleks, aku langsung menangkap
bahunya untuk mencegah jatuhnya. “Lho, mbak?? Mbak kenapa??”
Dia hanya menangis. Isakan
pilunya yang terus keluar pun menyayat hatiku, walaupun ini baru pertemuan
keduaku dengannya.
“Kita masuk dulu ya
mbak?,” aku sedikit menunduk, untuk menangkap tatapan matanya yang terbenam di
tubuhku. Tak dapat, aku pun perlahan-lahan membawa wanita itu masuk ke
rumahnya.
Perlahan-lahan, aku
mendudukkan wanita itu di sofa ruang tamunya. Kemudian, setelah menaruh tas
selempangku di sofa disebrangnya, aku ke dapurnya untuk mencari gelas. Setelah
dapat, aku melihat sekitar. Tidak menemukan sebuah dispenser atau ceret air,
aku pun menuju kulkas. Setelah mengisi gelas ditanganku, aku pun menutup pintu
bagian bawah kulkas. Kemudian, sebuah kertas yang tertempel di pintu bagian
atas kulkas menangkap perhatianku. Tanpa bisa kucegah, tulisan yang tertulis di
sana pun terbaca.
“20/5.
5.00 sore. Pemakaman bunda.”
Hari
ini.
Aku pun menarik nafas
dan mengeluarkannya dengan perlahan, sambil menatap kertas yang tertempel itu
dengan rasa iba. Lalu, aku kembali teringat ‘Ia’.
Ummi...
“Ini mbak.” Aku duduk
di sisinya, sambil menyodorkan gelas itu ke tangannya. Tangisnya telah reda.
Setelah menyeka sisa jalur air mata yang ada di kedua pipinya, dia mengambil
gelas itu, dan perlahan menghabiskan isinya.
Aku beranjak dari
sisinya, dan duduk di sofa tepat disebrangnya. Dia tertunduk. Tatapan matanya
kosong, dan hanya tertuju pada gelas yang sedang digenggam tangannya. “Makasih
ya, mas,” katanya, masih tertunduk.
“Tidak pa-pa, mbak.
Setidaknya itu yang bisa saya lakukan untuk membantu.” Aku memberikannya sebuah
senyum, walau dia masih saja menatap gelas itu. Aku pun memberanikan diri
bertanya. “Kalau boleh saya tau, kenapa mbak tadi menangis?”
Akhirnya, dia menatap
mataku. Setelah menatapku agak lama, tangannya maju menyodorkanku surat yang
dibacanya tadi. “Silahkan mas baca sendiri. Tanyakan saja, jika ada yang ingin
ditanyakan.”
Aku mengambil surat
itu, dan membacanya dalam diam.
Kepada
Bella Renawati, anakku yang kucintai,
Maaf ya, nak, bunda lama tidak balas
suratmu. Bunda juga rindu kamu, Bella.
Bunda
baik-baik saja kok, nak. Walaupun masih tidak bisa bangun, tapi bunda sudah
bisa sholat berbaring lagi, nak. Bella sendiri bagaimana kabarnya? Semoga
pekerjaanmu sebagai pramusaji berjalan lancar ya, nak. Amin ya Rabbal’alamin.
Walaupun
sudah hampir 5 tahun bunda tidak melihat wajah bella, tapi bunda masih tidak
lupa kok. Cantik, ayu, persis seperti bunda dulu saat seumuran bella. Malah,
bunda yakin, sekarang bella lebih cantik daripada ketika bunda seumuran bella
dulu.
Bella
kapan pulangnya, nak? Bunda harap, bisa secepatnya ya. Bunda sangat ingin
bertemu, nak. Bunda yakin, masih bisa menunggumu, anakku.
Selalu
ingat sholat ya, sayang. Kalau bisa, yang sunnah dipenuhi juga, tapi yang
terpenting sholat lima waktu. Jangan pernah ketinggalan ya? Makannya juga yang
teratur, istirahatnya juga, bunda selalu mendoakan Bella disini, sayang.
Bunda
sayang kamu selalu, Bella anakku.
Salam
sayang dan rindu,
Bunda
Aku menarik nafas. Agak
panjang. Lalu, setelah memantapkan diri, “Surat ini sudah di pos sejak seminggu
yang lalu. Orang-orang di kantor, mereka bilang, rumah alamat tujuan surat ini
selalu tertutup. Mereka sudah mengetuk beberapa kali, tetapi tidak ada orang
yang menjawab...” aku berhenti sesaat, memberi kesempatan baginya untuk
meresapi kata-kataku. Lalu, “Pertanyaan saya hanya satu, mbak Bella,” aku
mengangkat kepala, dan menatapnya tajam, “kemana saja anda selama itu??”
Dia menunduk kembali.
Matanya menatap gelas yang masih saja dipegangnya. Salah satu ibu jarinya
menggosok-gosok gelas itu. “Saya bukan seorang pramusaji.” Setelah itu, dia
terdiam. Setelah kelihatannya menarik nafas yang dalam, “Iya, saya pelayan,
tapi bukan pramusaji. Jenis pelayanan saya... hanya untuk manusia-manusia yang
mencari kepuasan batin.”
Aku terhenyak. Sempat
terlintas rasa benci di kepalaku, sebelum akhirnya aku tersadar dengan keadaan
yang sedang kuhadapi sekarang. “Jadi, kenapa harus berbohong kepada almarhum?”
“Bunda sudah punya
banyak hal yang dia pikirkan. Saya takut, pekerjaan saya ini jadi tambahan
bebannya. Saya takut, bukannya sembuh dia malah...” Air matanya kembali
mengalir. Dia melepas genggamannya pada gelas itu, dan memeluk kakinya,
sementara wajahnya terbenam dibaliknya.
Entah mengapa, aku
merasa bersalah. Aku beranjak, dan setelah menaruh gelas di atas meja, aku
merangkulnya. Tanganku mengelus punggungnya lembut. “Yang kuat ya, Bella.
Almarhum pasti tidak akan rela melihat anaknya begini. Kuatkan dirimu. Almarhum
sudah tenang disana.”
“Aku ingin minta maaf
ke bunda, mas...,” katanya, ditengah tangisnya dan isakan pilunya yang mengisi
rumah ini.
Rasa ibaku memberikan
sebuah ide. Aku pun kemudian berkata, “Kalau begitu, ayo kita temui almarhum.”
*****
Anakku
yang tercinta,
Ummi baik-baik saja, nak. Kata
dokter, ummi masih perlu banyak istirahat. Tapi Alhamdulillah, katanya kalau
sholat masih dibolehkan, walaupun hanya berbaring. Kamu kapan pulang, nak?
Semoga kamu baik-baik juga ya disana.
Salam
sayang,
Ummi.
Itu adalah ‘Ia’. Surat
itu datang kemarin. Aku sebenarnya sudah menulis balasannya, dan rencananya,
setelah mengantar surat Bella tadi, aku ingin mengirimnya. Tapi, aku
mengurungkan niat itu. Aku memutuskan untuk mengikuti hati nurani, bukan nalar.
Tiba-tiba, HPku
bergetar. Sebuah sms.
“Lion air. Take-off
10.45 pagi. No gerbang: 4F. Tempat duduk: 13J. Salam utk bundanya pak pos
ganteng ya.”
Akhirnya, aku bisa
bernafas lega.
No comments:
Post a Comment