6/30/2012

#2 Terlambat Sehari


5.02pm. June 18th, 2012. Monday.

Kepada Umi yang tersayang,
            Saya masih bingung, umi. Belum ketemu tanggal yang pas. Doakan saja, supaya bisa cepat menemukannya.
Salam sayang, Anakmu.

Kedua tanganku menggenggam tali tas selempang yang melintas di bagian depan tubuhku. Mataku menatap tanah di depan, tanpa peduli berapa genangan air kecil yang sudah kulewati. ‘Ia’, yang menghantui pikiranku sejak sarapan tadi masih juga belum menghilang.
BRUKK!!
Tiba-tiba, bahu kiriku menabrak sebuah bahu lain. Aku langsung tersadar dari lamunanku.
“Maaf,” kata pemilik bahu itu.
“Oh, iya, tidak pa-pa.” Aku membalasnya dengan sebuah senyum. Lalu, sambil tetap menundukkan kepalanya, dia berlalu dari depanku.

Mataku mengikutinya. Sang pemilik bahu itu seorang wanita. Dia berjaket tipis hitam, dengan sebuah rok panjang yang berwarna senada. Tangan kirinya menahan kain hitam tipis, yang melingkar di kepalanya dan melindungi rambutnya, agar tidak jatuh dari bahu kanannya. Sedangkan tangan kirinya menggenggam erat sebuah kertas.
Hitam.
Lagi-lagi ‘Ia’ kembali. Aku pun menutup mata, dan setelah menarik nafas yang dalam, aku membusungkan dada dan berjalan mantap ke alamat pertama.

*****

“Terima kasih ya, mas.”
“Iya, sama-sama, bu.” Aku tersenyum pada penerima hampir terakhirku. Setelah surat ibu ini dan 42 surat lain yang telah mendahuluinya, tasku sekarang hanya dihuni oleh 1 surat. Sambil berjalan keluar dari halaman rumah itu, aku membuka tasku dan mengeluarkan 1 surat terakhir itu. Alamat yang tertera menunjukkan kalau alamat ini hanya 5 rumah dari rumah ini.
Tiba-tiba, aku teringat Hendi dan Dian. Surat ini yang mengingatkanku dengan mereka. Seperti juga surat-surat Hendi, penerima tanpa nama ini selama 3 bulan terakhir sudah secara reguler mendatangi kantor bersama suratnya. Aku tak pernah melihatnya. Tetapi menurut temanku yang juga pernah mengirim sebuah surat balasan ke alamat ini, penerima tanpa nama ini adalah seorang wanita. Sedangkan pengirim suratnya juga adalah wanita, yang memiliki sebutan ‘Bunda’.
‘Bunda’...
Bagaimana kabar beliau sekarang ya?
Aku menghela nafas.

Akhirnya, rumah pemilik alamat yang kutuju terlihat di ujung jalan. Rumah kecil berwarna abu-abu. Sepertinya rumah terakhir di jalan ini.
Rumah itu terlihat sepi. Jendelanya tidak terbuka, di dalamnya pun tertutup gorden. Sebuah pohon besar dengan ayunan berada di depan rumah itu, di sisi kirinya. Di halamannya, tersebar daun-daun kering kecoklatan yang kontras dengan hijau rumput, yang berkilau di bawah langit senja yang jingga ini. Aku pun menyebrang jalan menuju rumah itu.

Aku memberi ketukan di pintu tiga kali. Tidak terlalu keras, juga tidak terlalu pelan. Aku sudah berencana, kalau misalnya penghuni rumah ini masih tidak ada setelah 3 paket ketukan, aku hanya akan meninggalkan suratnya di depan pintu ini.
Aku memberikan paket ketukanku yang kedua di pintu ini. Masih juga tidak ada suara kunci dibuka atau diputar. Lalu, ketika aku ingin mengetuk kembali, ia terbuka. Hanya sedikit, tapi cukup untuk sebelah mata dan setengah muka sang penghuni rumah untuk terlihat olehku. Matanya yang merah dan agak bengkaklah yang menarik perhatianku untuk pertama kali.

Dia hanya menatapku dengan dahi berkerut. Kemudian, “Siapa?,” katanya datar. Ternyata, bukan cuma udara sore ini yang dingin.
“Saya dari kantor pos, mbak.”
Dia menatapku sebentar. Lalu, pintu itu kembali tertutup. Aku terperanjat untuk sesaat. Setelah itu, pintu terbuka lebih lebar, sehingga aku bisa melihat seluruh tubuhnya.

Kedua tangannya bersilang di depan tubuhnya. Dia memakai jaket tipis hitam, seperti sweater. Di dalamnya, sebuah t-shirt putih polos. Rambutnya tergerai tak beraturan di kedua sisi bahunya. Rok yang dipakainya panjang, juga berwarna hitam. Sepertinya wanita berumur 20an.
Alisku pun terangkat. Wanita ini kan...
“Ada perlu apa?,” suaranya tidak sedatar tadi, tetapi tatapan matanya tajam.
“Saya mengantar surat yang tujuan alamatnya ke rumah ini.”
Tatapan mataku menangkap dahinya yang sedikit berkerut. “Bisa saya liat suratnya?”
Aku memberinya amplop yang ada di tanganku. Dia menyambutnya, dan kemudian membalik amplop itu.
Saat melihat bagian amplop itu, yang memiliki alamat dan tulisan ‘Bunda’, tatapannya memaku. Dia pun tak bergerak. Hanya menatap bagian amplop itu, sambil sesekali ibu jarinya bergerak-gerak. Lalu, setelah menarik nafas, dia merobek bagian atas amplop itu dan mengeluarkan surat di dalamnya.

Batinku berkecamuk. Sempat terlintas keinginan untuk permisi dan meninggalkannya dengan urusannya sendiri, seperti yang biasa kulakukan dengan penerima lainnya. Akan tetapi, sesuatu menyarankanku untuk tetap berdiri di situ.

Kemudian, sebutir air mulai turun dari sudut mata kanannya. Air itu menelusuri pipinya, terus turun, sampai akhirnya jatuh membasahi kertas surat itu. Mata kirinya pun juga mengeluarkan setetes air mata, yang akhirnya juga jatuh ke surat itu. Akhirnya, dia terisak.
Tubuhnya seperti melemah. Tubuh itu mulai oleng ke depan. Refleks, aku langsung menangkap bahunya untuk mencegah jatuhnya. “Lho, mbak?? Mbak kenapa??”
Dia hanya menangis. Isakan pilunya yang terus keluar pun menyayat hatiku, walaupun ini baru pertemuan keduaku dengannya.
“Kita masuk dulu ya mbak?,” aku sedikit menunduk, untuk menangkap tatapan matanya yang terbenam di tubuhku. Tak dapat, aku pun perlahan-lahan membawa wanita itu masuk ke rumahnya.
Perlahan-lahan, aku mendudukkan wanita itu di sofa ruang tamunya. Kemudian, setelah menaruh tas selempangku di sofa disebrangnya, aku ke dapurnya untuk mencari gelas. Setelah dapat, aku melihat sekitar. Tidak menemukan sebuah dispenser atau ceret air, aku pun menuju kulkas. Setelah mengisi gelas ditanganku, aku pun menutup pintu bagian bawah kulkas. Kemudian, sebuah kertas yang tertempel di pintu bagian atas kulkas menangkap perhatianku. Tanpa bisa kucegah, tulisan yang tertulis di sana pun terbaca.

“20/5. 5.00 sore. Pemakaman bunda.”

Hari ini.
Aku pun menarik nafas dan mengeluarkannya dengan perlahan, sambil menatap kertas yang tertempel itu dengan rasa iba. Lalu, aku kembali teringat ‘Ia’.
Ummi...

“Ini mbak.” Aku duduk di sisinya, sambil menyodorkan gelas itu ke tangannya. Tangisnya telah reda. Setelah menyeka sisa jalur air mata yang ada di kedua pipinya, dia mengambil gelas itu, dan perlahan menghabiskan isinya.
Aku beranjak dari sisinya, dan duduk di sofa tepat disebrangnya. Dia tertunduk. Tatapan matanya kosong, dan hanya tertuju pada gelas yang sedang digenggam tangannya. “Makasih ya, mas,” katanya, masih tertunduk.
“Tidak pa-pa, mbak. Setidaknya itu yang bisa saya lakukan untuk membantu.” Aku memberikannya sebuah senyum, walau dia masih saja menatap gelas itu. Aku pun memberanikan diri bertanya. “Kalau boleh saya tau, kenapa mbak tadi menangis?”
Akhirnya, dia menatap mataku. Setelah menatapku agak lama, tangannya maju menyodorkanku surat yang dibacanya tadi. “Silahkan mas baca sendiri. Tanyakan saja, jika ada yang ingin ditanyakan.”
Aku mengambil surat itu, dan membacanya dalam diam.

Kepada Bella Renawati, anakku yang kucintai,
            Maaf ya, nak, bunda lama tidak balas suratmu. Bunda juga rindu kamu, Bella.
Bunda baik-baik saja kok, nak. Walaupun masih tidak bisa bangun, tapi bunda sudah bisa sholat berbaring lagi, nak. Bella sendiri bagaimana kabarnya? Semoga pekerjaanmu sebagai pramusaji berjalan lancar ya, nak. Amin ya Rabbal’alamin.
Walaupun sudah hampir 5 tahun bunda tidak melihat wajah bella, tapi bunda masih tidak lupa kok. Cantik, ayu, persis seperti bunda dulu saat seumuran bella. Malah, bunda yakin, sekarang bella lebih cantik daripada ketika bunda seumuran bella dulu.
Bella kapan pulangnya, nak? Bunda harap, bisa secepatnya ya. Bunda sangat ingin bertemu, nak. Bunda yakin, masih bisa menunggumu, anakku.
Selalu ingat sholat ya, sayang. Kalau bisa, yang sunnah dipenuhi juga, tapi yang terpenting sholat lima waktu. Jangan pernah ketinggalan ya? Makannya juga yang teratur, istirahatnya juga, bunda selalu mendoakan Bella disini, sayang.
Bunda sayang kamu selalu, Bella anakku.

Salam sayang dan rindu,
Bunda

Aku menarik nafas. Agak panjang. Lalu, setelah memantapkan diri, “Surat ini sudah di pos sejak seminggu yang lalu. Orang-orang di kantor, mereka bilang, rumah alamat tujuan surat ini selalu tertutup. Mereka sudah mengetuk beberapa kali, tetapi tidak ada orang yang menjawab...” aku berhenti sesaat, memberi kesempatan baginya untuk meresapi kata-kataku. Lalu, “Pertanyaan saya hanya satu, mbak Bella,” aku mengangkat kepala, dan menatapnya tajam, “kemana saja anda selama itu??”

Dia menunduk kembali. Matanya menatap gelas yang masih saja dipegangnya. Salah satu ibu jarinya menggosok-gosok gelas itu. “Saya bukan seorang pramusaji.” Setelah itu, dia terdiam. Setelah kelihatannya menarik nafas yang dalam, “Iya, saya pelayan, tapi bukan pramusaji. Jenis pelayanan saya... hanya untuk manusia-manusia yang mencari kepuasan batin.”
Aku terhenyak. Sempat terlintas rasa benci di kepalaku, sebelum akhirnya aku tersadar dengan keadaan yang sedang kuhadapi sekarang. “Jadi, kenapa harus berbohong kepada almarhum?”
“Bunda sudah punya banyak hal yang dia pikirkan. Saya takut, pekerjaan saya ini jadi tambahan bebannya. Saya takut, bukannya sembuh dia malah...” Air matanya kembali mengalir. Dia melepas genggamannya pada gelas itu, dan memeluk kakinya, sementara wajahnya terbenam dibaliknya.

Entah mengapa, aku merasa bersalah. Aku beranjak, dan setelah menaruh gelas di atas meja, aku merangkulnya. Tanganku mengelus punggungnya lembut. “Yang kuat ya, Bella. Almarhum pasti tidak akan rela melihat anaknya begini. Kuatkan dirimu. Almarhum sudah tenang disana.”
“Aku ingin minta maaf ke bunda, mas...,” katanya, ditengah tangisnya dan isakan pilunya yang mengisi rumah ini.
Rasa ibaku memberikan sebuah ide. Aku pun kemudian berkata, “Kalau begitu, ayo kita temui almarhum.”

*****

Anakku yang tercinta,
            Ummi baik-baik saja, nak. Kata dokter, ummi masih perlu banyak istirahat. Tapi Alhamdulillah, katanya kalau sholat masih dibolehkan, walaupun hanya berbaring. Kamu kapan pulang, nak? Semoga kamu baik-baik juga ya disana.
Salam sayang,
Ummi.

Itu adalah ‘Ia’. Surat itu datang kemarin. Aku sebenarnya sudah menulis balasannya, dan rencananya, setelah mengantar surat Bella tadi, aku ingin mengirimnya. Tapi, aku mengurungkan niat itu. Aku memutuskan untuk mengikuti hati nurani, bukan nalar.

Tiba-tiba, HPku bergetar. Sebuah sms.
“Lion air. Take-off 10.45 pagi. No gerbang: 4F. Tempat duduk: 13J. Salam utk bundanya pak pos ganteng ya.”
Akhirnya, aku bisa bernafas lega.

No comments: