December 17th, 2011. 1.47pm.
Dia saat itu sedang duduk di sofa ruang tamu. aku memperhatikannya dari kamar. melalui celah yang sedikit terbuka di pintu. sesekali, dia melihat keluar. kemudian, dia menunduk.
mungkin melihat lantai di bawahnya.
atau kakinya.
atau tangannya yang dikunci dengan satu sama lain setiap kali kamu ngobrol.
kemudian, dia menengok ke luar lagi. mataku menangkap sebuah bekas luka di lehernya. aku pun langsung berpaling, dan bertatap mata dengan diriku di dalam kaca itu. tanganku juga terkunci dengan satu sama lain. mereka berada diantara kedua kakiku. dahiku sedikit mengkerut. kecemasan memenuhi setiap sudut mataku.
"Lukanya terbuka lagi." begitulah katanya, ketika aku membuka pintu depan.
aku menghela nafas. "masuklah." sebelum menutup pintu, aku mengeluarkan kepalaku sedikit dan melihat keadaan sekitar.
"maukah kau menjahitnya?" dia menatap tangannya yang terkunci, diantara kakinya yang tertutup rok panjang. "please?"
aku bersandar ke pintu, tangan terlipat di depan dadaku. kerutan dahiku belum menghilang. "mau sampai kapan kamu begini terus?"
"bukankah kau sudah tau jawabannya?"
"trus gimana kalo dia gak berubah juga?"
tidak ada jawaban.
sampai aku duduk di pinggir tempat tidur inipun, dia sama sekali tidak menjawab.
akhirnya, menarik nafas yang dalam, aku memasukkan tanganku ke kolong tempat tidur di bawahku, dan mulai meraba2. kemudian, tanganku berhenti. jariku menyentuh sebuah kotak. aku pun menggenggam kotak itu, dan beranjak ke ruang tamu.
saat aku keluar kamar, dia menengok. dia tersenyum. tapi aku tetap saja tidak bisa berhenti menatapnya heran.
"Terima kasih, ya..." katanya, ketika aku telah duduk di sampingnya. tapi aku tetapi ingin berkutat dengan kotak di depanku.
"dan maaf sekali, kalau aku selalu merepotkanmu." tanganku terhenti. kepalaku berhenti sebelum aku bisa sepenuhnya menengok ke arahnya. baru kali ini dia ber-aku-aku.
aku mengalihkan perhatianku kembali ke kotak itu. kukeluarkan sebuah jarum, dan mengikat sebuah benang di ujung tumpulnya.
kemudian, aku membuka telapak tanganku. "kemarikan."
aku menunggu beberapa saat, tapi tangannya tidak juga terjulur. aku pun menengok ke arahnya.
kancing teratas hem hitamnya sudah terbuka, menampakkan kulitnya yang putih.
kemudian, dia membuka kancing kedua. memperlihatkan lekukan terlarangnya.
saat tangannya membuka kancing ketiga, "apa yang kamu lakukan??!", tanganku sudah terjulur menghentikan tangannya.
hangat.
"bukankah yang seperti biasa kita lakukan?" dia menatapku bingung.
"tapi kan gak harus buka - bukaan!" mataku menatap tajam, dan meremas kecil tangannya.
dia pun tersenyum.
aku pun menatapnya.
menatap hem hitamnya.
kemudian, mataku menangkap sebuah noda.
noda merah gelap.
tepat di atas...
kebingunganku hilang seketika.
dengan sendirinya pertanyaan di benakku terjawab.
tatapanku berubah iba.
kemudian, aku menarik turun tangannya.
"aku gak bisa." dengan tangan sedikit bergetar, aku mengancingkan kembali bajunya.
"kenapa?" kurasakan dadanya naik turun lebih cepat. lirih.
"ia bukan milikku. bukan aku yang seharusnya menjahit luka disitu." aku hanya bisa menatap tanganku yang sudah sampai ke kancing teratas.
kemudian, aku mengalihkan pandanganku ke kotak itu.
"tapi..." aku menutup kotak itu, dan menguncinya untuk terakhir kali.
"kasih ini ke dia. bicaralah baik2 dengannya. aku yakin, dia pasti akan ngerti." aku menaruh kotak itu di telapak tangannya yang terbuka, dan memberi sebuah senyum hangat.
kemudian, aku beranjak.
terus berjalan pelan ke arah kamar.
aku tak menengok ke belakang.
tak boleh.
perlahan, aku mendorong pintu kamar.
telingaku menangkap isak tangis kecil.
aku pun menutup mataku.
"Cklek."

No comments:
Post a Comment