december 20th, 2011. 12.34am
melalui kacamataku, aku hanya menatap garis vertikal kecil yang berkedip - kedip di depan latar belakang putih itu. aku menggigit bibir. jari2ku sudah melayang di atas keyboard. tapi tetap saja tidak ada yang mau keluar.
menghela nafas panjang, aku menarik jari2ku, dan mengklik x merah di ujung kanan atas layar. aku menekan alt+f4 dan menutup mukaku dengan kedua tangan. dalam benaman tanganku, aku menarik nafas panjang, dan perlahan mengeluarkannya.
kemudian, telingaku menangkap suara rintik hujan. aku membiarkan tanganku jatuh, dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi. kemudian, aku menengok ke jendela di kiriku.
langit saat itu abu2. di jendela, titik air memenuhi 4 petak kaca kusen jendela, seperti simpang 4 jalanan tokyo ketika lampu merah. ramai, berjejal, dan mengalir. di balik jendela itu, di sebrangnya, tertutup sebuah jendela. jendelanya sama. berpetak 4, seperti juga jendelaku. mungkin keramaiannya juga sama. yang beda, hanyalah jendela itu tertutup tirai. tirai bermotif bunga mawar merah kecil dengan latar belakang pink. dan mungkin jendela itu sedikit berdebu.
pasti dia lagi minum teh hambarnya.
tanpa sadar, aku tersenyum. kemudian, aku menghilangkan senyum itu, dan beranjak dari kursi.
sambil memakai jaket, kepalaku celingak celinguk, menatap ke segala sudut kamar. kemudian, ia berhenti ketika menatap sebuah kunci yang dengan manisnya duduk di atas sebuah meja bedside, di belakang sebuah bingkai. bingkai itu berwarna putih. putih dengan sedikit krem kalau yang melihat teliti. di dalamnya, sebuah foto. seorang wanita berponi ekor kuda sedang menggigit roti, duduk di sebuah kursi dengan latar belakang keramaian sebuah restoran. tangannya yang satu mengikat rambut, sedangkan yang lainnya mengeluarkan telunjuk dan jari tengahnya untuk diberikan ke arah kamera yang menangkap momen itu. dan begitu juga matanya.
mungkin, bukan ke arah kamera, tapi ke arah yang mengambil.
"aku hanya tiga bulan disana."
aku langsung menelungkupkan bingkai itu, meraih kunci, dan mengambil payung hitam di sambing meja bedside itu sebelum pintu tertutup.
+++++
rintik2 air mengetuk2 atap payung hitamku. dari balik kacamata, aku menatap lurus ke depan. jajaran rumah yang serupa di kananku ini memanjang ke depan, lurus, dengan warna yang serupa pula. hanya isinya yang mungkin berbeda. tidak ada pohon. tidak ada tanaman tinggi. hanya rumput hijau, rumah abu2 dan aspal hitam yang memanjang lurus.
tangan kananku berada di tempat yang seharusnya; kantong jaket. di pelukannya, sebuah nokia C5 yang dari tadi tidak kunjung bergetar. kakiku melangkah, tak peduli walau kubangan kecil mengolam. mataku menatap aspal hitam di depan yang akan aku injak.
aku pun menaikkan kepalaku. kemudian, aku terhenti. beberapa meter di depanku, seorang wanita sedang duduk di pinggir trotoar. kedua lengannya memeluk kakinya yang tertekuk. sweater pink yang memang biasa dipakainya di saat seperti ini kelihatan pudar.
kelam.
memucat.
seperti juga wajahnya.
rambutnya pendek. lebih pendek dari pada yang dulu. ia bersinar dibawah langit ini. walaupun dia tertunduk, rambut itu tidak pernah jatuh. matanya sepertinya tak sejalan dengan pikirannya sekarang.
aku pun teringat suatu saat. saat dia lebih kering. saat dia lebih cerah. saat dia lebih dekat.
aku berdiri di balik jendela, memegangi korden dan menatapnya dari balik celah. dia berkeliling di kamarnya, sambil sesekali melihat boneka di lemari terbukanya. tangan kanannya memegang sebuah hp yang ditempelkan ke telinganya. menit2 pertama, mukanya penuh senyuman. sesekali, dia tertawa. menit berikutnya, dia sedikit memutih. mungkin sedikit kecewa. tapi kemudian, di menit berikutnya, dia kembali cerah, dan akhirnya, panggilan itu diakhiri secepat ia dimulai. setelah itu, dia menunduk. rambutnya tidak jatuh. dan matanya juga tak sejalan dengan pikirannya. dia menghela nafas pendek.
tiba2, dia menengok ke jendelanya. yang berhadapan denganku.
sesaat, mata kami bertemu. kemudian, aku melepaskan peganganku pada korden, dan celah itu menutup.
3 tahun sudah berlalu sejak saat itu.
aku menengadah, menatap langit abu2 di atas sana.
"hujan meresonansikan pikiran untuk mengingat masa lalu."
itulah kata mereka. dan sepertinya, benar.
butiran2 air melewati tatapanku.
tapi, apa benar ini butiran2 air?
aku pun menunduk, kembali menutupi kepala dengan payung.
lalu, kenapa hujan bisa melakukan hal itu?
aku mengangkat telapak tanganku yang terbuka. setetes air jatuh di atasnya.
mungkinkah air ini hanya kedok?
aku kembali melihat wanita itu. kepalanya bertumpu pada lutut kakinya. tiba2, dia menengok ke arahku.
mata kami bertemu.
aku pun perlahan berbalik, dan mulai berjalan.
matanya berkaca2. benarkah ada yang terjadi lagi?
sayang.
padahal, aku sudah merangkai kata yang tepat.
+++++
"London nih, sayang."
aku tersenyum. "seperti yang kamu selalu mimpikan kan?"
"iyalah! tapi yah, kamu taukan, aku masih kepikiran."
aku menengok ke dia. "sama?"
"kamu." tatapan matanya terlihat sayu. aku menangkap sebersit ketidakrelaan disana.
aku mengusap rambut di sisi wajahnya. "kamu udah kerja keras untuk bisa sampai sejauh ini, Lena. jangan biarkan hal2 kecil menghalangimu. gapailah cita2mu, kasihku. yah?" kuberikan dia sebuah senyuman.
"kamu bukan hal kecil buatku, Al."
"aku akan baik2 saja, sayang. percayalah."
akhirnya, dia pun tersenyum. "okay. lagipula, aku hanya tiga bulan disana."
percakapan itu terjadi di rumahnya. di dalam kamarnya. di atas tempat tidurnya. 6 bulan yang lalu. aku tak menyangka, itu adalah yang terakhir.
dan sekarang, rumah yang sama terpampang di depanku. warnanya sudah memudar. dedaunan kering yang telah hancur dan debu menjadi satu di terasnya. pintunya terhalang oleh 3 kayu yang dipasang melintang di depannya. jendelanya berteralis. rumah itu telah tidur tenang, perlahan-lahan dimakan waktu untuk berubah menjadi sesuatu yang lain dan akhirnya, bersatu dengan alam.
mataku menatap pintu itu. aku seakan bisa melihatnya menembus pintu itu. aku pun menghela nafas. tapi bukan karena lelah.
"cukup sudah, Al." kata suara di kiriku.
"Gak bisa." aku masih menatap pintu itu. "dia pasti bisa sembuh."
"yah, kita udah coba selama 2 setengah tahun terakhir, Al." sebuah jeda untuk sesaat. kemudian, sebuah tangan membasahi bahuku. "Please..."
aku pun menengok. "gak bisa, Len." mata kami bertatapan. aku terlindung di bawah hujan, dia terguyur. matanya. rambut hitamnya. pipi kurusnya. hidungnya yang mungil.
semuanya sama.
hanya saja...
tiba2, dia berpaling.
aku pun kembali menengok ke rumah itu. semuanya mulai kembali lagi.
3 bulan yang lalu, Lena divonis 'terganggu'. seminggu sebelum vonis itu jatuh, beberapa orang memperkosanya di sebuah angkot ketika dia baru touchdown di kota ini. oleh orang tuanya, dia dimasukkan rumah sakit khusus. mereka menerima saja saran itu dari keluarga mereka. kemudian, mereka pindah.
tapi aku bukan keluarga mereka.
2 hari setelah menghuni rumah sakit itu, di tengah malam, bermodalkan lakban, tali, dan suntikan obat penenang, aku memindahkan Lena dengan tanganku sendiri. kembali ke tempat dia lahir dan mengabiskan 17 tahun hidupnya bernaung di bawah atap tempat itu.
dan seminggu yang lalu, dia datang.
Leni.
wanita yang kutemui di bawah hujan, ketika dia sedang duduk di pinggir trotoar dan kakinya bertumpu di lututnya.
wanita yang, secara fisik, adalah Lena.
wanita yang berkata "Lepaskan tangan yang telah tiada, dan gandeng tangan yang ada."
aku menghela nafas. tangkai payung pun jatuh di bahu kananku. aku menunduk, menatap kakiku.
"aku gak tau, kamu mau sampai kapan nyimpan ini dari mereka..." aku menutup mata, "...tapi yang aku tau, adalah kamu gak bisa selamanya begini, Al." kemudian, aku mendengar sebuah langkah kaki.
langkah itu semakin lama semakin jauh. "Leni!" kataku, agak keras, sambil tetap menutup mata. aku pun mengangkat kepalaku, dan menoleh ke kiri. "maukah kamu menemani aku?" kataku pada punggungnya.
bahunya sedikit terangkat, kemudian jatuh kembali. "sure."
aku pun berjalan di sampingnya, dan menaruh atap payung di atasnya. "satu lagi."
"apaan?"
"boleh aku menggandeng tanganmu?"
tiba2, aku berjalan sendiri. aku pun berhenti, menengok ke belakang dan menatapnya.
kebingungan memenuhi matanya.
aku pun tersenyum, dan mengulurkan tanganku.

No comments:
Post a Comment