December 16th, 2011. 1.35am
Dulu, Tuhan menciptakan Langit.
Kemudian, Tuhan menciptakan Bumi.
Tapi, keduanya bisu.
Dan untuk beberapa millenia, keheningan menyelimuti dunia.
Kemudian, Tuhan menciptakan benda2 langit.
Dan Tuhan menciptakan siang dan malam.
Dan akhirnya, di malam hari, Langit pun ramai.
Hiruk pikuk bintang2 yg bercengkrama dengan bulan di malam hari. bintang2 berdebat tentang siapa diantara mereka yg paling terang. pada akhirnya, mereka berpaling ke sang Bulan. tapi, Bulan membisu, dan hanya memberikan mereka lengkungan hangat.
menjelang pagi...
Mentari naik. ia muncul dari balik horizon.
"Selamat tidur, Bulan!" sapa Mentari.
"dan Semoga beruntung, Mentari." Bulan tersenyum hangat, dan pergi tidur dibalik horizon.
Dan siang datang. Cahaya mentari menyinari Bumi. mengisi langit. menyebar ke segala arah.
Mentari terus tersenyum. ia memandang Bumi dengan sebuah senyuman. ia melihat sekeliling. sunyi senyap, sama sekali tak ada suara. ia mencoba menerka, apa rencana Tuhan untuk tanah hitam dengan sungai merah itu.
akankah ada yg mengisinya?, tanyanya dalam batin.
akankah seramai saat malam?, ia teringat Bulan dan bintang2.
akankah...
ia tersenyum lagi, dan kembali menerka hal2 lain.
beberapa millenia berlalu.
berjuta2 siang dan malam terus terlewati. malam tetap ramai. perdebatan antara Bintang2 terus terjadi. siang pun tetap sunyi senyap. Mentari tersenyum dengan sinarnya yang mengisi langit, sambil terus menerka.
Tapi kemudian, suatu hari, Mentari kehabisan terkaan. semua pertanyaan sudah dia tanyakan ke batinnya. ia melihat sekeliling. senyum di wajahnya hilang.
tiba2, ia teringat Bulan. juga Bintang2. dan keramaian yg mereka buat setiap malam. ia menghela nafas.
akankah...
tiba2, dia menggelengkan kepalanya cepat.
tiba2, pandangannya ke tanah hitam di Bumi mengabur. perlahan, sebuah kabut terbentuk dibawah Mentari. kabut itu semakin tebal. putih. kemudian, abu2. sampai akhirnya, Mentari sama sekali tidak bisa melhat Bumi. kabut hitam di bawahnya mengganti tempatnya. mengisi seluruh sudut Langit.
dahi Mentari mengkerut. "Siapa kamu??!" teriaknya dari atas.
"Aku Awan Hitam!!" balas kabut itu. "Aku ciptaan Tuhan yang paling baru!"
"Kamu menghalangiku!! Bisakah kamu pergi ke tempat lain??"
"Tidak!! Tuhan bilang, aku harus ke sini dan menumpahkan air yang Dia masukkan ke tubuhku!!"
"Tapi ini tempatku!!"
"Siapa yang bilang ini tempatmu??! aku tidak melihat ada namamu di sekitar sini!! lagipula, tempat ini cukup luas!!"
"Tapi ini tempatku!!!"
"Aku diutus Tuhan untuk ke sini, dan aku tidak akan bergerak!!" Awan Hitam berbalik, dan mulai menumpahkan titik air ke atas tanah hitam di Bumi.
dahi Mentari masih mengkerut. matanya memandang Awan Hitam dengan penuh benci.
Seenaknya saja dia, berani tiba2 datang kesini dan mengambil tempatku!! memangnya dia siapa??!
begitulah batin Mentari, setiap melihat Awan Hitam tiba2 muncul di bawahnya. sejak itu, Mentari memulai siang tanpa senyum.
+++++
pasti dia datang lagi hari ini!! malas sekali kalau sampai benar dia datang!!
Mentari teringat teriakan2nya selama beberapa ratus tahun terakhir. dan bagaimana Awan Hitam hanya akan menanggapinya dengan tenang dan datar. dan bagaimana hal itu hanya akan membuat Mentari semakin muak.
tiba2, Mentari terperanjat. Ia melihat Bumi yang hijau dibawahnya. Sebuah senyum mulai mengembang. Binatang2 berlarian, dikejar oleh makhluk berkaki dua yang membawa tombak. akhirnya, Mentari tersenyum. untuk pertama kalinya sejak berpuluh2 millenia, dia bisa melihat sesuatu selain tanah hitam, sungai merah dan Awan Hitam.
tapi kemudian, pandangannya mulai kabur lagi. dan Awan Hitam itu muncul lagi.
"SEDANG APA KAU DISINI???" teriak Mentari, dengan dahi berkerut dan senyum yang menghilang cepat.
Awan Hitam terperanjat, dan berbalik sambil memasang muka santai. "Aku disuruh Tuhan untuk memberikan mahkluk2 dibawah sana berkah dari Dia."
"Berkah?? Apa maksudmu 'berkah'?? Satu2nya berkah yang mereka dapatkan adalah AKU!! Cahayakulah yang menerangi mereka! Seharusnya, hanya aku yang menempati Langit. AKU!!! yang kamu bawa itu cuma petir, dan dingin bagi mereka!! tidak ada yang menginginkan itu!!"
Awan Hitam membisu. ia menatap Mentari yang mukanya merah dan nafasnya menghembuskan hawa amarah. kemudian, "baiklah." Awan Hitam menghilang, dan Mentari bisa melihat Bumi dengan jelas lagi.
beberapa tahun berlalu.
kini, hanya Mentari yang mengisi Langit. ia tersenyum, sementara cahayanya menyinari seluruh sudut Bumi. kemudian, Mentari melihat sekeliling.
Matanya tersangkut pada seorang anak manusia yang memegangi perutnya.
anak manusia itu menangis, sambil tangannya sendiri mengelus2 perutnya. tubuhnya semakin ringkuk, dan anak manusia itu sesekali berteriak kesakitan.
Mentari melihat ke arah lain.
kali ini, matanya tersangkut pada seorang manusia laki2, yang sedang berdiri di tengah sebuah lahan.
laki2 itu tertunduk, ditengah lahan yg penuh retakan dan tanaman kuning yang telah mati. di genggamannya pun juga ada tanaman kuning itu. tiba2, laki2 itu bertengadah. di sudut matanya, mulai turun air mata. mata laki2 itu dan sang Mentari bertemu. muka laki2 itu merah, dan nafasnya menghembuskan hawa amarah.
dada Mentari sesak. ia tidak bisa menghilangkan bayangan tanah yang retak itu. atau lelaki itu. atau anak manusia itu.
ditambah lagi, pertanyaan itu kembali hinggap.
akankah selalu sesunyi ini?
pertanyaan itu tidak hilang. setiap kali Mentari memalingkan perhatiannya ke Bumi, dia selalu melihat tanah - tanah yang retak itu. dan juga anak2 manusia yang semakin banyak memegangi perutnya, sambil berteriak kesakitan.
bertahun2 terus berlanjut dengan keadaan ini. Mentari pun semakin lelah, dan yang dia bisa lakukan hanyalah memandang ke Bumi dengan tangannya menopang dagunya.
kemudian, pada suatu siang, "mengapa kau bersedih, Mentari?" sebuah bisikan di telinga batin Mentari menariknya dari lamunannya.
"Aku iba pada anak2 manusia itu. setiap kali melihat mereka, entah kenapa, dadaku sesak, dan rasa bersalah memenuhi diriku."
"mengapa kau harus merasa bersalah?"
"aku pun tak tahu. seharusnya mereka berbahagia, karena aku telah memberikan mereka berkah dari Tuhan. cahayaku. kehangatanku. tapi, mengapa justru mereka kesakitan?"
"Aku telah mengetahui pertanyaan2mu, Mentari." Mentari melihat ke Langit. "Dan Aku pun tau, apa yang selama ini kau selalu dambakan. Dan karena itulah, Aku menciptakan dia."
Mentari teringat akan sebuah kabut. "Tapi mengapa harus dia?? Dia mengambil tempatku di langit ini! dan dia tidak memberikan apa2 ke Bumi selain petir, dan dingin."
"Ketahuilah, Mentari, bahwa kau bukanlah satu2nya berkah yang Kuciptakan. dia juga membawa air yang berkahnya setara denganmu."
untuk sesaat, bisikan itu diam. kemudian, "belajarlah untuk menerimanya, Mentari..." bisikan itu merendah, dan akhirnya benar2 menghilang.
Kemudian, kabut putih mulai terbentuk di bawah Mentari. dan Awan Hitam kembali muncul.
"Aku datang atas suruhan Tuhan." Kata2 Awan Hitam datar, dan ia tidak berbalik untuk menatap mata Mentari. "Sebenarnya, aku tak ingin kembali. tapi--"
"Selamat datang kembali," perlahan, Awan Hitam berbalik, "Kawan." kata mentari, sambil memberikan sebuah senyum hangat.

No comments:
Post a Comment